Komunikasi Antarbudaya dalam Kohesivitas Kelompok Malala Project Aiesec Bandung

Muhammad Nur Ihsan, Ike Junita Triwardhani

Abstract


Abstract. Intercultural communication is part of communication General. Intercultural communication is defined as communication that occurs between people of different nationalities, races, languages, religions, educational levels, social status or even sex. The effectiveness of intercultural communication is largely determined by the extent to which an individual minimizes misunderstanding of messages exchanged by intercultural communicators and communicants. Project Malala AIESEC is a project devoted to helping underprivileged and fortunate children through education that contains people who have different cultural backgrounds both domestically and abroad. Due to differences in cultural background, the way to communicate with project members will also be different; both in the delivery of verbal and nonverbal languages. The members' habits in terms of interaction and adaptability of members are also different. In order to overcome the differences in intercultural differences, an effort is needed to foster a strong sense of group cohesiveness. Group cohesion refers to how close attachments are group members towards the group. The greater the group cohesion, the more the level of satisfaction of the group members. In order to achieve maximum results in less than two months, the Malala AIESEC Bandung project must be able to overcome various obstacles in intercultural communication and strengthen the group's cohesiveness. The purpose of this study is to find out the obstacles that occur in the project, personal and interpersonal factors that influence intercultural communication, the formation of group cohesiveness that occurs in the project, and evolution that occurs in project members. This research is a descriptive method, which is a method that aims to systematically describe facts or characteristics of certain populations in a factual and careful manner. Whereas to collect data, the writer uses literature study techniques, observation, and interviews. From the results of the study, the authors conclude some things, namely language is a complex matter and can have a major impact on Intercultural Communication of the Members of the Malala AIESEC Bandung project. And cohesiveness is formed because the interests of the collectivity above the individualistic interests of the members and the internal motivation of each project member is broadly the same so that all members have the same purpose.

Keyword: Intercultural Communication, Cohesiveness Communication, Communication Barriers

 

 

Abstrak. Komunikasi antarbudaya merupakan bagian dari komunikasi secara
umum. Komunikasi antarbudaya diartikan sebagai komunikasi yang terjadi antara orang-orang yang berbeda bangsa, ras, bahasa, agama, tingkat pendidikan, status sosial atau bahkan jenis kelamin. Efektivitas komunikasi antarbudaya sangat ditentukan oleh sejauhmana seorang individu meminimalkan kesalahpahaman atas pesan-pesan yang dipertukarkan oleh komunikator dan komunikan antarbudaya. Project Malala AIESEC adalah suatu project yang dikhususkan untuk membantu anak anak kurang mampu dan beruntung lewat pendidikan yang berisikan orang orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda beda baik dalam negeri maupun luar negeri. Karena perbedaan latarbelakang budaya tersebut, cara berkomunikasi para anggota project pun akan berbeda pula; baik dalam penyampaian bahasa verbal maupun nonverbal. Kebiasaan-kebiasaan para anggota dalam hal berinteraksi dan kemampuan beradaptasi para anggota juga berbeda. Agar dapat mengatasi perbedaan perbedaan antarbudaya tersebut, diperlukan suatu upaya untuk menumbuhkan rasa kohesivitas kelompok yang kuat. Kohesi (kepaduan) kelompok merujuk pada seberapa dekat keterikatan anggota kelompok terhadap kelompoknya. Makin besar kohesi kelompok, makin
besar tingkat kepuasan anggota kelompok tersebut. Agar dapat mencapai hasil yang  maksimal dalam waktu kurang dari dua bulan, project Malala AIESEC Bandung harus mampu mengatasi berbagai hambatan dalam berkomunikasi antarbudaya dan memperkuat rasa kohesivitas kelompok.           Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hambatan yang terjadi di dalam project, faktor personal dan antar personal yang mempengaruhi Komunikasi Antarbudaya, terbentuknya Kohesivitas kelompok yang terjadi di dalam project, dan evolution yang terjadi pada anggota project. Penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu metode yang bertujuan untuk melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu secara faktual dan cermat. Sedangkan untuk mengumpulkan data, penulis menggunakan teknik studi literatur, observasi,dan wawancara. Dari hasil penelitian, penulis menyimpulkan beberapa hal yaitu bahasa adalah hal yang kompleks dan dapat berdampak besar pada Komunikasi Antarbudaya para Anggota project Malala AIESEC Bandung.  Dan kohesivitas terbentuk karena kepentingan kolektivitas diatas kepentingan individualistik para anggota dan motivasi internal setiap anggota project pun secara garis besar sama sehingga semua anggota memiliki tujuan yang sama.

Kata kunci: Komunikasi Antarbudaya, Kohesivitas Kelompok,Hambatan Komunikasi


Keywords


Komunikasi Antarbudaya, Kohesivitas Kelompok,Hambatan Komunikasi

Full Text:

PDF

References


Liliweri,Alo.2003.Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta.Pustaka Pelajar.

Liliweri, Alo. 1991.Komunikasi Antarpribadi. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Littlejohn, Stephen W dan Karen A Foss. 2009. Enchyclopedia of CommunicationTheory. United States of America: SAGE Publications.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif, Penerbit, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Mulyana, Deddy. 2014. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy. 2005. Komunikasi Efektif (Suatu Pendekatan Lintas Budaya). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyana,Deddy.2010.Komunikasi Lintas Budaya. Bandung.PT Remaja Rosdakarya.




DOI: http://dx.doi.org/10.29313/.v0i0.14527

Flag Counter