Perilaku Komunikasi Antarbudaya Alumni Pesantren dalam Upaya Adaptasi dengan Lingkungan Baru

Rizki Aminulloh, Erik Setiawan

Abstract


Abstract. Adaptation is needed so that there is no anxiety when interacting. Cultural differences are often used as anxiety to be able to interact with strangers or in new environments. It's just that there are still doubts when pesantren alumni adapt to a new environment, with cultural differences when at the pesantren and outside the pesantren or in a new environment there is a new culture that must be accepted by each other. Communication behavior in pesantren can be applied in a new environment, it's just that there must be an adaptation to the new environment. Therefore, the purpose of this study is to determine the communication behavior used when pesantren alumni are in a new environment. This study uses a qualitative method with a phenomenological approach which has a function to deepen information based on the individual experiences of the informants in communicating with pesantren alumni with the meaning of experiences they get when in a new environment. The way to determine the subject is by choosing pesantren alumni who have differences during their time at the pesantren, namely 3 years and 6 years at the pesantren. Data collection techniques in this study were non-participant observation, interviews with 5 informants, and literature study. By using data analysis techniques, triangulation of sources and triangulation of techniques. The results of this study found that the communication behavior applied by pesantren alumni uses verbal and non-verbal communication, and uses assertive communication, and the adjustment time obtained by pesantren alumni does not depend on the background of the 3 or 6 years old pesantren. Adaptations are obtained because of the desire in each individual to be able to adjust to the new environment. Barriers that were obtained by the alumni of verbal and non-verbal communication were differences in language and anxiety in communicating and interacting with the opposite sex. Intonation, appearance is an obstacle in terms of what is felt when in a new environment. These obstacles will later become an adaptation process for pesantren alumni and become a meaning of experience that will be obtained when in a new environment.

Keywords: Communication Behaviour, Cultural Adaptasion, Culture Shock

Abstrak. Adaptasi diperlukan agar tidak adanya kecemasan saat berinteraksi. Perbedaan budaya memang sering dijadikan kecemasan untuk dapat berinteraksi dengan orang asing atau di lingkungan baru. Hanya saja masih adanya keraguan ketika alumni pesantren beradaptasi di lingkungan baru, dengan perbedaan budaya ketika di pesantren dan di luar pesantren atau lingkungan baru adanya budaya baru yang harus diterima satu sama lainnya. Perilaku komunikasi di pesantren bisa saja diterapkan di lingkungan baru, hanya saja harus adanya adaptasi dengan lingkungan barunya. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini yaitu, untuk mengetahui perilaku komunikasi yang digunakan ketika alumni pesantren berada di lingkungan baru. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang memiliki fungsi untuk memperdalam informasi yang didasari oleh pengalaman- pengalaman individu para informan dalam berkomunikasi dengan alumni pesantren dengan makna pengalaman yang didapatkan ketika berada di lingkungan baru. Cara menentukan subjek dengan memilih alumni pesantren yang memiliki perbedaan selama di pesantren yaitu 3 tahun dan 6 tahun di pesantren. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini berupa observasi non- partisipan, wawancara terhadap 5 informan, dan studi pustaka. Dengan menggunakan teknik analisis data triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa perilaku komunikasi yang diterapkan oleh alumni pesantren menggunakan komunikasi verbal dan non-verbal, dan menggunakan komunikasi asertif, dan waktu penyesuaian yang didapatkan oleh alumni pesantren tidak bergantung dengan latar belakang pesantren 3 tahun atau 6 tahun. Adaptasi yang didapatkan karena adanya keinginan dalam diri individu masing-masing untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Hambatan yang didapatkan oleh alumni komunikasi verbal dan non-verbal yaitu, adanya perbedaan bahasa dan kecemasan dalam hal berkomunikasi dan berinteraksi dengan lawan jenis. Intonasi, penampilan merupakan hambatan dalam hal yang dirasakan ketika berada di lingkungan baru. Hambatan tersebut nantinya akan menjadi proses adaptasi bagi alumni pesantren dan menjadi makna pengalaman yang nantinya didapatkan ketika berada di lingkungan baru.

Kata Kunci: Perilaku Komunikasi, Adaptasi Budaya, Culture Shock


Keywords


Perilaku Komunikasi, Adaptasi Budaya, Culture Shock

Full Text:

PDF

References


Dayakisni, Tri. 2012. Psikologi lintas budaya. Malang: UMM Press.

Suranto. 2010. Komunikasi sosial budaya. Yogyakarta: Graha Ilmu

Wijaya. A. W. 2000. Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Jakarta: Rineka Cipta.

Fiske, John. 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Rajawali Pers.

Hasan, Erliana. (2005). Komunikasi Pemerintahan. Bandung: PT. Rafika Aditama.

Jurnal

Hasbiansyah, O. 2008. “Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian Dalam Ilmu Sosial Dan Komunikasiâ€, dalam Jurnal Mediator, Volume 9 (1)

Rizak, Mochamad. 2018. "Peran Pola Komunikasi Antarbudaya Dalam Mencegah Konflik Antar Kelompok Agama", dalam Jurnal Islamic Communication, Volume 3 (1)

Yulianita, Neni, dkk. 2005. “Sikap dan Perilaku Komunitas Warga mengenai Maraknya Pedagang Kaki Lima†dalam Jurnal Mediator, Volume 6 (1)

Hadiono, Abdi Fauzi. 2016. “Komunikasi Antar Budaya (Kajian Tentang Komunikasi Antar Budaya Di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi)", dalam Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan, Komunikasi Dan Pemikiran Hukum Islam, Volume 8 (1)

Skripsi

Andika, Syamsyu. 2017. “Pengelolaan Kecemasan Dalam Komunikasi Antarbudayaâ€, Skripsi, Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Harvianti, Rahmadhani Ayu , Kurniadi, Oji. (2021). Kampanye Komunikasi Ecotransport dalam Mengurangi Transportasi Pribadi. Jurnal Riset Public Relation, 1(1). 8-14




DOI: http://dx.doi.org/10.29313/.v0i0.30009

Flag Counter