Gambaran Neonatal Hiperbilirubinemia pada Bayi yang Lahir dari Ibu Golongan Darah O di RSUD Al Ihsan Kabupaten Bandung

Aulia Azzahra, Noormartany Noormartany, Buti Azfiani Azhali

Abstract


Abstract. Neonatal hyperbilirubinemia is a common problem that can be found in neonates, especially in the first week of life, as haemolysis is one of the most common causes. ABO incompatibility is known as the highest cause of haemolysis in neonates. ABO incompatibility is occured in babies with A or B blood type from mothers with O blood type within 24 hour after birth and an increased level of indirect bilirubin > 12 mg/dL. The aim of this study is to describe neonatal hyperbilirubinemia in babies from mothers with O blood type in RSUD Al Ihsan Kabupaten Bandung in 2017. This descriptive study obtained 49 samples using total sampling techniques that match the inclusion and exclusion criteria from medical records between January–December 2017 in RSUD Al Ihsan. The data shows that there were 49 babies with neonatal hyperbilirubinemia born from mothers with O blood type, in which 30 (61%) babies are type A and 19 (39%) others are type B.  However, only 3 (6%) of 49 babies acquired ABO incompatibility, 1 (33%) baby is type A and the other 2 (67%) babies are type B while the remaining 46 (94%) did not acquired ABO incompatibility. The conclusion is that not all babies with neonatal hyperbilirubinemia born from mothers with O blood type in RSUD Al Ihsan can be defined as ABO incompatibility.

Keywords: ABO Incompatibility, Hyperbilirubinemia, Jaundice, Neonates.

Abstrak. Neonatal hiperbilirubinemia adalah masalah klinis umum yang ditemui pada neonatus, terutama pada minggu pertama kehidupan, salah satu penyebab terseringnya adalah hemolisis. Inkompatibilitas ABO merupakan penyebab terbanyak penyakit hemolitik neonatal. Inkompatibilitas ABO terjadi pada bayi bergolongan darah A atau B dari ibu bergolongan darah O, dalam 24 jam pertama setelah lahir dengan bilirubin indirek > 12 mg/dL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran neonatal hiperbilirubinemia pada bayi yang lahir dari ibu golongan darah O di RSUD Al Ihsan Kabupaten Bandung tahun 2017. Penelitian deskriptif ini didapatkan 49 sampel menggunakan teknik total sampling yang sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi dari rekam medis bulan Januari–Desember tahun 2017 di RSUD Al Ihsan. Hasil menunjukkan 49 bayi dengan hiperbilirubinemia lahir dari ibu bergolongan darah O, diantaranya 30 (61%) bayi bergolongan darah A dan 19 (39%) bayi golongan darah B. Namun, hanya 3 (6%) dari 49 bayi yang lahir dari ibu golongan darah O yang mengalami inkompatibilitas ABO dan 46 (94%) tidak mengalami inkompatibilitas ABO, diantaranya 1 (33%) bayi bergolongan darah A dan 2 (67%) lainnya bergolongan darah B. Simpulan, tidak semua bayi dengan neonatal hiperbilirubinemia yang lahir dari ibu golongan darah O di RSUD Al Ihsan dapat didefinisikan sebagai inkompatibilitas ABO.

Kata Kunci: Hiperbilirubinemia, Ikterus, Inkompatibilitas ABO, Neonatus.


Keywords


Hiperbilirubinemia, Ikterus, Inkompatibilitas ABO, Neonatus.

Full Text:

PDF

References


Behrman RE, Kliegman RM, Nelson WE, Vaughan VC III. Nelson Textbook of Pediatrics. 14th ed. Philadelphia: WB Saunders Company. hlm. 11–2.

Dean L. Blood Groups and Red Cell Antigens. Bethesda (MD): National Center for Biotechnology Information (US); 2005.

Farida R, Suryadhana NG, Gultom F. Penentuan Golongan Darah Sistem ABO Melalui Saliva Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi U.I. (Laporan Penelitian). Journal of Dentistry Indonesia. 1993;1(1):10–4.

IDAI - Indikasi Terapi Sinar pada Bayi Menyusui yang Kuning [Internet]. [diunduh 30 Desember 2017]. Tersedia dari: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/indikasi-terapi-sinar-pada-bayi-menyusui-yang-kuning

Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2017.

Murray NA, Roberts IA. Haemolytic disease of the newborn. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed. 2007;92(2):F83–8.

Noortiningsih. Bayi kuning dan ketidakcocokan golongan darah. [diunduh 19 Juli 2018]. Tersedia dari: http://www.republika.co.id

Schwartz W. Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC; 2005. hlm. 14–5.

Table 3.1, Comparative studies evaluating risk factors for hyperbilirubinaemia. 2010 [diunduh 31 Desember 2017]; Tersedia dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK65114/table/ch3.t1/?report=objectonly

Ullah S, Rahman K, Hedayati M. Hyperbilirubinemia in Neonates: Types, Causes, Clinical Examinations, Preventive Measures and Treatments: A Narrative Review Article. Iran J Public Health. 2016 May;45(5):558–68.

Watchko, JF. Hyperbilirubinemia and bilirubin toxicity in the late preterm infant. Clin Perinatol. 2006;33:839–52.

Wibowo S. Perbandingan kadar bilirubin neonatus dengan dan tanpa defisiensi glucose-6-phosphate dehidrogenase, infeksi dan tidak infeksi. [diunduh 7 Agustus 2018]. Tersedia dari: http://eprints.undip.ac.id/18714/1/Satrio_Wibowo2.pdf




DOI: http://dx.doi.org/10.29313/kedokteran.v0i0.13059

Flag Counter