Peremajaan Kawasan Permukiman Kepadatan Tinggi dengan Konsep Hunian Vertikal

Maya Rahmi Utami, Sri Hidayati Djoeffan

Abstract


Abstract. Slum settlement is one of the big problems that the government often faces. One of the slum settlement locations is in Braga Village, such as RW 04 and part of RW 08 which are included in the Travelapolis Area. The factors that cause an environment are included in the slum criteria, namely high building density, low economic levels, degradation of land functions and environmental degradation that can pollute the environment. To solve this problem, urban rejuvenation analysis is needed. Urban renewal is an effort to reorganize certain areas with the aim of obtaining sufficient added value while preserving the function and quality of its environment. The approach method used is a mixed method of qualitative and quantitative approaches. The concept used in the urban renewal strategy is vertical housing and Green City. The concept of rejuvenation that is applied is to rearrange the high density residential area based on the 8 elements of Hamid Shirvani's design. Designing a vertical residential concept equipped with supporting facilities and infrastructure for settlements as well as a Travelapolis tourist area in the form of open space as a multifunctional area.Keywords: Urban Renewal, Travelapolis, Vertical Housing.Abstrak. Permukiman kumuh merupakan salah satu permasalahan besar yang sering kali dihadapi pemerintah. Salah satu lokasi permukiman kumuh yaitu berada di Kelurahan Braga, tepatnya RW 04 dan sebagian RW 08 yang termasuk ke dalam Kawasan Travelapolis. Faktor penyebab suatu lingkungan termasuk dalam kriteria kumuh yaitu kepadatan bangunan yang tinggi, tingkat perekonomian yang cenderung rendah, degradasi fungsi lahan dan degradasi lingkungan yang dapat mencemari lingkungan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dibutuhkan analisis peremajaan kota. Peremajaan kota merupakan upaya untuk menata kembali kawasan tertentu dengan tujuan memperoleh nilai tambah yang mencukupi sekaligus dapat mempertahankan kelestarian fungsi serta mutu lingkungannya. Metode pendekatan yang dilakukan yaitu metode pendekatan campuran kualitatif dan kuantitatif. Konsep yang digunakan dalam strategi peremajaan kota adalah konsep rumah susun dan Green City. Konsep peremajaan yang diterapkan adalah dengan menata ulang kawasan perumahan kepadatan tinggi yang berpedoman pada 8 elemen perancangan Hamid Shirvani. Merancang konsep hunian vertikal yang dilengkapi sarana dan prasarana penunjang permukiman serta kawasan wisata Travelapolis berupa ruang terbuka sebagai area multifungsi.Kata Kunci: Peremajaan Kota, Travelapolis, Hunian Vertikal.

Keywords


Peremajaan Kota, Travelapolis, Hunian Vertikal

Full Text:

PDF

References


Adisasmita, R. 2010. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Danisworo, M. 1998. Konseptualisasi, Gagasan, dan Upaya Penanganan Proyek Peremajaan Kota: Pembangunan Kembali sebagai Fokus. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Djoeffan, Sri H. 1998. Peremajaan Perumahan Berkepadatan Tinggi di Kawasan Tamansari Kotamadya Bandung. Bandung: Program Arsitektur ITB.

Shirvani, Hamid. 1985. The Urban Design Process. New York: Van Nostrand Reinhold Company.

Rahmat. R.R and Djoeffan, S. H. 2019. Penerapan Water Sensitive Urban Design pada Permuiman DAS Cikapundung (Studi Kasus: Kelurahan Pasirluyu Kota Bandung). Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. Volume XVI Nomor 1, hal. 37-46.

Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 18 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung Tahun 2011 – 2031

Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 10 Tahun 2015 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kota Bandung Tahun 2015 – 2035.

SNI 03 – 7013 – 2004 tentang Tata Cara Perencanaan Fasilitas Lingkungan Rumah Susun Sederhana

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Susun Sederhana Bertingkat Tinggi




DOI: http://dx.doi.org/10.29313/pwk.v7i1.26438

Flag Counter