Studi Deskripsif Mengenai Resiliensi pada Remaja Broken Home di Komunitas HOLD ON Kota Bandung

Dita Rizkiani, Susandari Susandari

Abstract


Abstract. A group of children with a broken home family background in Bandung created a community called "HOLD ON" which aims to change bad habits and disorders that makes children with broken home getting stress. After joining "HOLD ON", the members feel themselves getting up. The "HOLD ON" member who formerly had been angry, upset, wanting to hurt himself, pessimistic about the future, withdrawing from the environment, not being convinced of himself, now seemed to have high resilience. Resilience according to Karen Reivich (2002) is the ability of individuals to get out of the traumatic events that occur and make a person able to cope with stress by choosing action-oriented tasks, such as taking action that is useful to cope pressing conditions and having belief that they are able to organize the result of their lives. The purpose of this study is to obtain empirical data about the resilience of broken home   children in "HOLD ON" community Bandung. The method used was descriptive by calculating median of each aspect. The results showed that 7 subjects had low resilience mainly on causal analysis   aspect, and all members of "HOLD ON" were high on self efficacy and reaching out aspects.

Keywords: resilience, adolescent, broken home

                                                                                

Abstrak. Semakin meningkatnya tingkat perceraian maka semakin banyak pula anak korban keluarga broken home yang tak dipungkiri juga anak broken home mengalami masa-masa terpuruk dalam hidupnya. Sekumpulan anak yang berlatar belakang keluarga broken home di Bandung membuat suatu komunitas bernama “HOLD ON” yang bertujuan untuk merubah kebiasaan buruk serta gangguan yang membuat jatuh stress. Setelah bergabung dengan “HOLD ON”, anggotanya merasa dirinya bangkit. Anggota “HOLD ON” yang tadinya memiliki perasaan marah, kesal, ingin menyakiti diri sendiri, pesimis akan masa depan, menarik diri dari lingkungan, tidak tidak yakin dengan diri sendiri kini terlihat memiliki resiliensi yang tinggi. Resiliensi menurut Karen Reivich (2002) adalah kemampuan individu untuk keluar dari peristiwa traumatik yang terjadi serta membuat seseorang mampu mengatasi stres dengan memilih tindakan yang berorientasi pada tugas, seperti mengambil tindakan yang berguna untuk mengatasi kondisi yang menekan dan ketika mereka bertindak, mereka berpegang teguh pada keyakinan bahwa mereka mampu mengatur hasil akhir hidup mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris mengenai gambaran resiliensi pada anak broken home di komunitas “HOLD ON” Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah studi deskriptif dengan menghitung median untuk menentukan tinggi rendah tiap aspek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 7 orang subjek memiliki resiliensi rendah terutama pada aspek causal analysis, dan seluruh anggota “HOLD ON” tinggi pada aspek self efficacy dan reaching out.

Keywords: resiliensi, remaja, broken home


Keywords


resiliensi, remaja, broken home

Full Text:

PDF

References


Allcianov. (2008). Studi Mengenai Resiliensi Pada Para Pendaki Gunung. Skripsi. Bandung. Universitas Padjajaran

Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Cetakan Kelimabelas. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Banaag, C. G. (2002). Reiliency Street Children, and Substance Abuse Prevention. Prevention Preventif, Nov. 2002, Vol 3

E. B, Hurlock. (1994). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta. Erlangga.

Hari, R.A. (2010). Studi Deskriptif Mengenai Resilience Pada ‘Datuk’ Sebagai Tokoh Masyarakat Pasca Gempa Bumi di Kota Bengkulu. Skripsi. Universitas Islam Bandung

J. W, Santrock. (2005). Life-span Development. USA. McGraw-Hill Humanities Social.

Karina, C. (2014). Resiliensi Remaja yang Memiliki Orang Tua Bercerai. Jurnal Online Psikologi. http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jop/article/view

/1848

Lerner, R.M., Steinberg, L. (2004). Handbook of Adolescent Psychology (2nd Edition). New Jersey. John Wiley & Sons, Inc.

Prayitno, E. (2006). Psikologi Perkembangan Remaja. Padang. Angkasa Raya

Ningrum, P. R. (2013). Perceraian Orang Tua dan Penyesuaian Diri Remaja. eJournal Psikologi, Volume 1, Nomor 1, 2013: 69-79

Quensel, S., Paul M., Aoife B, Auke, W. M. Bloom, R.Jonhson, B. Kolte R.Pos. (2002). Broken Home or Drug Using Peers:”Significant Relation? Journal of Drug Issues. England. University of Bremen.

Reivich. K., Shatte. A. (2002). The Resilience Factor ’7 Essential Skills for Overcoming life’s Inevitable Obstacles, first edition. New York. Broadway Books

Yusuf, S. (2000). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung. PT Remaja Rosda Karya




Flag Counter