Studi Deskriptif Mengenai Konsep Diri pada Siswa Remaja Tunarungu di SMK BPP Kota Bandung

Vita Dwi, Endang Pudjiastuti

Abstract


Abstract. Teens are generally in the process of seeking identity. Currently around us not all teenagers have the fortunate fate of teenagers in general are blessed with normal physical. One category of disability is deaf (hearing impaired). Deafness that occurs in adolescence can lead to self-perception is not right, not accept yourself, low self-esteem, despair. But unlike the deaf teenagers in SMK BPP Bandung. Most can accept themselves, know about themselves, have hope and aspirations for the future. According to Calhoun & Acocella (1990) self-concept is a mental picture that consists of how individuals see themselves as individuals, how individuals feel about themselves, and how individuals want themselves as individuals expect. Self-concept can be seen from three dimensions of self-knowledge, self-expectations and self-assessment. The purpose of this study to obtain a picture of self-concept in the students of deaf adults in SMK BPP Bandung. The method used in this study is descriptive method with the subject of research as many as 12 people visually impaired teens in SMK BPP Bandung. Data collection using a measuring tool of researchers based on self concept theory from Calhoun & Acocella, (1990), self-concept measuring tool constructed modification of research Wuri Diastari (2016). The measuring instrument has 34 valid items with reliability of 0.793. Based on data processing, the results showed that as many as 8 students of deaf students (67%) included in the category of positive self-concept. This means that deaf students can accept, know about themselves and have hope to live a better life.

Keywords: youth, deaf, self concept

 

Abstrak. Remaja umumnya sedang berada dalam proses pencarian jati diri. Saat ini di sekeliling kita tidak semua remaja memiliki nasib beruntung layaknya remaja pada umumnya yang dikaruniai fisik yang normal. Salah satu kategori kecacatan adalah tunarungu (orang yang mengalami gangguan pendengaran). Ketunarunguan yang terjadi pada usia remaja dapat mengakibatkan persepsi diri yang tidak tepat, tidak menerima diri, rendahnya harga diri, putus asa. Namun berbeda dengan siswa remaja tunarungu di SMK BPP Kota Bandung. Sebagian besar dapat menerima diri, mengetahui tentang diri, memiliki harapan dan cita-cita untuk masa depannya. Menurut Calhoun & Acocella (1990) konsep diri adalah gambaran mental yang terdiri dari bagaimana individu melihat diri sebagai pribadi, bagaimana individu merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana individu menginginkan diri sendiri sebagaimana yang individu harapkan. Konsep diri dapat dilihat dari tiga dimensi yaitu pengetahuan diri, pengharapan diri dan penilaian diri. Tujuan penelitin ini untuk memperoleh gambaran mengenai konsep diri pada siswa remaja tunarungu di SMK BPP Kota Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan subjek penelitian sebanyak 12 orang tunanetra remaja di SMK BPP Kota Bandung. Pengumpulan data menggunakan alat ukur peneliti berdasarkan teori konsep diri dari Calhoun & Acocella,(1990), alat ukur konsep diri dikonstruksikan modifikasi dari penelitian Wuri Diastari (2016). Alat ukur tersebut memiliki 34 item yang valid dengan reliabilitas sebesar 0,793. Berdasarkan pengolahan data diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa sebanyak 8 orang siswa remaja tunarungu (67%) termasuk dalam kategori konsep diri positif. Artinya siswa remaja tunarungu mampu menerima, mengetahui tentang diri dan memiliki harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Kata Kunci: Remaja, Tunarungu, Konsep Diri


Keywords


Remaja, Tunarungu, Konsep Diri

Full Text:

PDF

References


Acocella, J. R., & Calhoun, J. F. (1990). Psychology of adjustment human relationship (3th ed). New York : McGraw-Hill.

Amaliah. 2012. Gambaran Konsep Diri pada Dewasa Muda yang Bermain Erepublik.

Arikunto, Suharsimi. (2003). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Azwar, Saifuddin. (2004). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Burns, R. B. (1993). Konsep Diri (Teori Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku). Jakarta. Arcan.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Administrasi. Bandung. CV Alfabeta.

Fitriyah, Chusniatul & Rahayu, Siti Azizah. 2013. Konsep Diri Pada Remaja Tunanetra Di Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB).

Heryati, Euis. 2010. Profil Kebutuhan Psikologis Remaja Tunarungu. Bandung: PLB UPI.

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Psychology A Life Span Approach Fifth Edition. Jakarta. Erlangga.

Kartono, Kartini. (1990). Psikologi Perkembangan Anak, Bandung : CV. Mandar.

Khairani, Yusanto & Putri. 2016. Analisis Konsep Diri Siswi Penyandang Tunarungu dan Tunawicara SLB Negeri Cicendo Bandung.

Noor, Hasanuddin. 2009. Psikometri “Aplikasi Dalam Penyusunan Instrumen Pengukuran Perilaku” Cetakan ke-4. Bandung : UNISBA

Papalia, Olds & Feldman. (2007). Human Development, Tenth Edition. New York: McGraw Hill.

Santrock Jhon W. 2007. Life-Span Developmental edisi ketigabelas. Jakarta. Erlangga.

Soemantri, S. (2006). Psikologi anak luar biasa. Bandung RefikaAditama

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Administrasi. Bandung. CV Alfabeta.

Sumber Internet

Badan Pusat Statistik (BPS) diakses dari http://www.bps.go.id/, diakses pada tanggal 27 Oktober 2017 pukul 18.00 WIB

Tala, Mega & Kartika, Sari Dewi. (2014). Eksplorasi kesejahteraan psikologis individu penyandang tunanetra. Jurnal Psikologi Undip. Semarang. file:///C:/Users/621508/Downloads/8067-17715-1-SM%20(4).pdf diakses pada 21 November 2017 pukul 16.30 WIB




Flag Counter