Studi Deskriptif Mengenai Student Well-Being pada Siswa SMA X Bandung

Savitri Yasmin Setyahadi, Milda Yanuvianti

Abstract


Abstract. Inclusive education has become one of education systems that is run in Indonesia. In 2016, Bandung city has declared to be inclusive education city and has obliged every school level to receive students regardless their condition. X High school in Bandung is a private inclusive school that had happened since 2000. The school’s programs and activities that are provided (to hopefully) facilitate the student’s interest and potential. Some of the students find it as positive thing that even though they feel tired at school, they will still go through with it with a positive energy. However, some other students find the school’s system and programs are something negative. This phenomenon effect the student’s performance at school. Those who have negative views of the school show less well performance. This result to a distinct division of 2 groups of the students. What the students feel that is analyzed in this research is called well-being (Seligman, 2011). The aim of this research is to gain empiric data about the well-being of X High school students in Bandung. This research uses descriptive method using questionnaire as the measurement. The result of this research shows that 51% of the total students have high level of well-being and other 49% shows low level. This means that more than half of the students have good judgement on themselves and their school.

Keywords : Student Well-Being, High School Student, Inclusive Education

 

Abstrak. Pendidikan inklusi saat ini telah menjadi salah satu sistem pendidikan yang dijalankan di sekolah-sekolah di Indonesia. Pada tahun 2016, kota Bandung mendeklarasikan diri sebagai kota pendidikan inklusi dan telah mewajibkan setiap jenjang sekolah untuk menerima siswa dalam kondisi apa pun. SMA X Bandung merupakan sekolah swasta inklusi yang telah berdiri dari sejak tahun 2000. Dengan program-program dan kegiatan yang disediakan oleh pihak sekolah, diharapkan dapat memfasilitasi setiap siswa yang ada untuk mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Sebagian siswa menilai hal tersebut sebagai suatu hal yang positif, sehingga walaupun dirasa berat dan melelahkan, siswa tetap menjalaninya dengan perasaan positif. Namun siswa lainnya tidak menilai seperti itu, siswa merasa hal tersebut sebagai suatu hal yang negatif. Hal ini pun kemudian berpengaruh pada performansi siswa di sekolah, siswa yang memandang negatif cenderung menunjukkan performansi yang kurang baik bila dibandingkan dengan siswa yang memiliki penilaian positif. Sehingga siswa pun terbagi menjadi dua kelompok yang sangat bertolak belakang. Apa yang dirasakan oleh siswa disebut sebagai Student Well-being (Seligman, 2011). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data empirik mengenai gambaran Student Well-being yang dimiliki oleh siswa SMA X Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan alat ukur kuesioner. Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa 51% dari total siswa memiliki tingkat well-being yang tinggi dan 49% lainnya belum, sehingga berarti lebih dari setengah siswa telah memiliki penilaian yang baik terhadap diri dan sekolahnya.

Kata Kunci : Student Well Being, Siswa SMA, Pendidikan Inklusi


Keywords


Student Well Being, Siswa SMA, Pendidikan Inklusi

Full Text:

PDF

References


Arikunto, S. (2009). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, S. (2012). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Dinas Pendidikan Kota Bandung. (2017, November 23). Kota Pendidikan Inklusi. Retrieved December 2017, from Dinas Pendidikan Kota Bandung: https://disdik.bandung.go.id/ver3/kota-pendidikan-inklusi/

Egal, N. (2016). Pendidikan Inklusif di Indonesia.

Frost, P. (2010). The Effectiveness of Student Well-being Programs and Services. Victorian Auditor-General's Report.

Hurlock, E. (2003). Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT. Erlangga.

J. Butler, M. L. (2016). The PERMA Profiler: A Brief Multidimensional Measure of Flourishing. International Journal of Wellbeing, 1-48.

Khatimah, H. (2015). Gambaran School Well-being pada Peserta Didik Program Kelas Akselerasi di SMA Negeri 8 Yogyakarta. Psikopedagogia Vol. 4, No.1.

Mariana. (2017, Februari 24). The PERMA Model: Your Scientific Theory of Happiness. Retrieved 2017, from Positive Psychology Program: http://positivepsychologyprogram.com/perma-model/

Noor, H. (2009). Psikometri. Bandung: Jauhar Mandiri.

S. E. Huebner, G. M. (2000). Correlates of School Satisfaction Among Adolescent. The Journal of Educational Research, 331-335.

Save The Children. (2016). Inclusive Education: What, Why, and How. London: St Vincent House.

Seligman, M. (2011). Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-being. New York: Free Press.

Sharma, R. (2017). 2017 Global Youth Wellbeing Index. International Youth Foundation.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suryabrata, S. (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo.

T. Noble, H. M. (2008). A Scoping Study on Student Well-being. Canberra: Department of Education, Employment & Workplace Relations.

Tri Na'imah, P. (2014). School Well-being pada Anak Didik di Taman Kanak-kanak. Jurnal Vol. 11.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. (n.d.).

Usmi Karyani, N. P. (2015). The Dimension of Student Well-being. Seminar Psikologi & Kemanusiaan.

Wilkinson, R. B. (2004). The Role of Parental and Peer Attachment in The Psychological Health and Self-esteem of Adolescents. Journal of Youth and Adolescence, 479-493.

World Health Organization. (2011). Causes of Blindness and Visual Impairment. Geneva: World Health Organization.




Flag Counter