Ekstraksi Logam Emas dan Perak dari Larutan Bijih dengan Sistem Penyerapan Menggunakan Karbon Aktif Batubara Sub-Bituminus (Coalite)

Jimansyah Jimansyah, Sri Widayati, Solihin Solihin

Abstract


Coal utilization in the industry it was still relatively limited primarily as fuel in steam power plant (power plant) and the cement industry, where as viewed from the sediment was very abundant in Indonesia, namely 120.53 billion tonnes. One method in the context of diversification (diversify) the use of coal is used as activated carbon. This can be done because coal is a material which is the main element is carbon (C), is indispensable as raw material for the manufacture of activated carbon, as well as other raw materials such as bone, coffee beans, coconut shells, sawdust, peanut shells etc. This study, trying to make the active carbon with raw materials derived from sub-bituminous coal has been carbonized (coalite). Coalite is then activated at a temperature of 9000C (gradually) in the absence of oxygen and then tried to use a medium for absorbing metallic gold / silver in a solution of gold ore cyanide (AuCN), which in the mining industry (extraction of metallic gold / silver) this process is often called carbon in leah (CIL). Considering use of activated carbon in the industry is very diverse and has been recognized reliability, which is not only used in industrial extraction of mineral, but also in industrial waste water treatment or gas, in addition to the main objectives mentioned above, from this study are expected to provide results, include the following: Coal (coalite), once activated into active carbon, expected to be used as a medium for absorbing of metal gold / silver, which is currently in the mining industry or the waste processing industry in general is still imported. From this research, by varying the number of variables activated carbon (gram), a long absorption time (hours) and the amount of activated carbon coal grain size (Mesh) are expected to be known after the optimum quantity that made some curves related and mutually influential. Once known their absorption by the method of analysis of the adsorption spectrophotometry (AAS) in gold and silver metals then try to get (recovery) by activated carbon coal, as proving the occurrence of sequestration against the granular activated carbon coal either before or after the absorption will be viewed with microscop using scanning electron (SEM).

 

Pemanfaatan batubara dalam industri masih relatif terbatas terutama hanya sebagai bahan bakar pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan industri semen, sedangkan bila dilihat dari endapannya di Indonesia sangat melimpah yaitu 120,53 milyar ton. Salah satu metoda dalam rangka penganekaragaman (diversifikasi) pemanfaatan batubara adalah dijadikan karbon aktif. Hal ini dapat dilakukan karena batubara merupakan suatu material (bahan) yang unsur utamanya adalah karbon (C) yang sangat diperlukan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif, sebagaimana bahan baku lainnya seperti tulang, biji kopi, tempurung kelapa, serbuk gergaji, kulit kacang dll. Penelitian ini, mencoba membuat karbon aktif dengan bahan baku berasal dari batubara sub-bituminus yang telah dikarbonisasi (coalite). Coalite tersebut kemudian diaktifasi pada temperatur 9000C (secara bertahap) pada kondisi tanpa oksigen yang kemudian dicoba digunakan sebagai media penyerap logam emas/ perak dalam larutan bijih emas sianida (AuCN), yang pada industri pertambangan (ekstraksi logam emas/perak) proses ini sering disebut carbon in leach (CIL). Mengingat pemakaian karbon aktif dalam industri yang sangat beragam dan telah diakui keandalannya, dimana tidak hanya digunakan pada industri ekstraksi bahan galian tambang saja, tetapi juga dalam industri pengolahan limbah cair atau gas, maka selain pada tujuan pokok tersebut di atas, dari penelitian ini diharapkan memberikan hasil, antara lain sbb : Batubara (coalite), setelah diaktifasi menjadi karbon aktif, diharapkan dapat digunakan sebagai media penyerap logam emas/ perak, yang mana saat ini pada industri pertambangan atau pada industri pengolahan limbah umumnya masih diimport. Dari penelitian ini, dengan memvariasikan variabel banyaknya karbon aktif (gram), lama waktu penyerapan (jam) dan besarnya ukuran butir karbon aktif batubara (Mesh) diharapkan dapat diketahui besaran yang optimum setelah dibuat beberapa kurva yang berhubungan dan saling berpengaruh. Setelah diketahui adanya penyerapan dengan metoda atomic adsorption spektrofotometri (AAS)  pada logam emas  dan perak kemudian di coba untuk mendapatkan (recovery) oleh karbon aktif batubara, sebagai pembuktian terjadinya penyerapan terhadap butiran karbon aktif batubara baik sebelum ataupun setelah penyerapan akan dilihat dengan menggunakan scanning electron microscop (SEM).

 


Keywords


Crushing Plan, Production, Productivity, Productin Rate Index

References


AWWA B 604 (American Water Works Association B604-12 Granular Activated Carbon edition 2012), America.

Dayton, S.H, 1987, “Gold Processing Update”, E& Mj, V. 188. No. 6 (June) pp. 25-29.

Eankoplis, C.J., 2003, “Transport Processes and Separation Process Principles (includes Unit Operations), 4th ed.”, pp 776-777, 802-806, Prentice Hall, New Jersey.

Mc. Dougall, G.J, 1991, The Phisical Nature and Manufacture of Activated Carbon, J S. Afr. Inst. Min. Metall, Vol. 91, No. 4 (April), pp. 109-12.

Milansmisek, 1970, “Manufacture of Active Carbon”, Applications of active carbon Chapters 2 and 5 in Active Carbon Milan Smisek and Slovoj Cerny, Editors Elsevier Amsterdam-London-New York pp 42 & 256-257.

Rumbino, Yusuf, 2002, “Kajian Kemungkinan Penggunaan Karbon Aktif Batubara Bayah Sebagai Media Penyerap Logam Cd, Cu dan Mn” , Tesis Bidang Khusus Teknologi Pemanfaatan Batubara, Program Pasca Sarjana Rekayasa Pertambangan, Institut Teknologi Bandung




Flag Counter