Implikasi Pendidikan dari Al-Qur’an Surat Al-Isra’ Ayat 36 terhadap Selektivitas Muslim dalam Proses Menuntut Ilmu

Arif Muttaqin Z, Enoh Nuroni, Adang M Tsaury

Abstract


Abstract. In demanding science should not done at will so as to underestimate the process. Because, there are important stages that must be passed by muslims in the process so as not to get lost. Findings from this study as stated in essence from QS. Al-Isra verse 36 are that every muslim must do charity and speak based on science, probihited from taklid to someone, probihited from fanatics based on lust and must realized that hearing, vision and heart are selections tools in the process of demanding science and all these tools wil be held accountable before Allah. And also stated in the educational implications of QS. Al-Isra’ verse 36 for muslim selectivity in the process of demanding science are: (1) setting the pupose of process demanding science to obtain the pleasure of Allah subhanahu wata’ala, perfect morals and stay away from ignorance. (2) Being diligent, thorough and patient in the process of demanding science. (3) Chossing a clear, trusted and famous book. (4) Choosing theacher who are trusted by the quality of their science and noble morals. (5) Choosing a friend who is noble morals. The conclusion is to get a clue so that every muslim can be selective in the process of demanding science and everything related to it, so that it can do charity with full confidence as desirired by Allah and His Prophet and have a noble morals.

Keywords: Selective, Choosing, Noble Morals, Demanding Science.

Abstrak. Dalam menuntut ilmu, tidak boleh dilakukan sesuka hati sehingga dapat menyepelekan prosesnya. Sebab, terdapat tahapan-tahapan penting yang mesti dilalui oleh seorang muslim dalam proses tersebut agar tidak tersesat. Temuan dari penelitian ini sebagaimana tertuang dalam esensi dari QS. Al-Isra’ ayat 36 yaitu bahwa setiap muslim harus beramal dan berkata-kata berdasarkan ilmu, dilarang taklid terhadap seseorang, dilarang fanatik berdasarkan hawa nafsu, serta harus menyadari bahwa pendengaran, penglihatan dan hati adalah alat seleksi dalam proses menuntut ilmu dan seluruh alat tersebut akan diminta pertanggungjawaban dihadapan Allah. Dan tertuang pula dalam implikasi pendidikan dari QS. Al-Isra’ ayat 36 terhadap selektivitas muslim dalam proses menuntut ilmu yaitu: (1) Menetapkan tujuan menuntut ilmu untuk memperoleh ridha Allah, menyempurnakan akhlak dan menjauhi kebodohan. (2) Bersikap tekun, teliti dan sabar dalam menuntut ilmu. (3) Memilih kitab yang jelas, terpercaya dan masyhur penulisnya. (4) Memilih guru yang terpercaya kualitas ilmunya dan mulia akhlaknya. (5) Memilih teman yang mulia akhlaknya. Kesimpulannya adalah diperoleh petunjuk agar setiap muslim dapat selektif dalam proses menuntut ilmu dan segala hal yang berkaitan dengannya, sehingga dapat beramal dengan penuh keyakinan sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta memiliki akhlak yang mulia.

Kata Kunci: Selektif, Memilih, Akhlak Mulia, Menuntut Ilmu.


Keywords


Selektif, Memilih, Akhlak Mulia, Menuntut Ilmu

Full Text:

PDF

References


Abu Zaid, B. A. (2014). Hilyah thalibil ‘ilmi: perhiasan penuntut ilmu. (Hawin Murtadlo, Penerjemah). Solo: Al-Qowam.

Al-Ghazali, (2011). Ihya ulumuddin: Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama, ilmu dan keyakinan. Jilid 1. (Ibnu Ibrahim Ba’adillah, Penerjemah). Jakarta: Republika Penerbit.

Al-Maraghi, A. M. (1987). Tafsir al-maraghi. Jilid 15. (Bahrun Abu Bakar, Penerjemah). Semarang: CV. Toha Putra.

Al-Mubarakfuri, S. (2006). Tafsir ibnu katsir. Jilid 5. (Abu Ihsan Al-Atsari, Penerjemah). Bogor: Pustaka Ibnu Katsir.

Al-Utsaimin, A. M. (1996). Kitab al-ilmi: Pedoman dalam menuntut ilmu agama. (Ummu Muhammad Husna, Penerjemah). Sleman: Gema Ilmu.

Ar-Raudhah, Kelompok Telaah Kitab. (2017). Metode menuntut ilmu ala salaf: Anjuran, keutamaan, adab, dan karakteristik penuntut ilmu. Solo: Pustaka Arafah.

Az-Zuhaili, W. (2016). Tafsir al-munir aqidah, syari’ah, manhaj (al-israa – thaahaa) juz 15 & 16 jilid 8. Jakarta: Gema Isani.

Hamka. (1983). Tafsir al-azhar juzu’ 15. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Quthb, S. (2003). Tafsir fii zhilalil qur’an: Di bawah naungan al-qur’an. Jilid 7. (As’ad Yasin, dkk., Penerjemah) Jakarta: Gema Insani.