Penentuan Kuantitas Produksi Teh Celup yang Optimal dengan Menggunakan Metode EPQ (Economic Production Quantity) pada Industri Hilir Teh Walini PTPN VIII

Tira Asmara, M. Yusuf Fajar

Abstract


Abstract. Inventory control is a set of policies made to determine inventory levels. Inventory control needs to be considered because it is directly related to the costs that must be borne by the company. Therefore, the existing inventory must be balanced with be needs, because too much intentory will cause the company to bear the risk of damage and high storage costs. But if there is a shortage of supplies will result in disruption of the smoothness in the production process. The EPQ method is an inventory model where goods are produced by the company themselves. The EPQ method can be achieved if the preparation cost (set up cost) plus a storage cost (carrying cost) is issued a minimum amount. This means that the optimal level of production will provide a minimum total inventory cost (TC). Based on observations, data for the period 2018 obtained a total of 15.664 units/year with a production rate of 1.585 units/month and a total demand of 15.608 units/year with a demand rate of 1.101 units/month. During the production process, the company also serves consumer demand. Based on calculations, the optimal quantity of SC Goalpara – Box 50g Black Tea Dye using EPQ method is 5.697 units with an optimal production time interval for four months and a minimum total inventory cost of Rp. 3.933.346.395 per year. Production optimization is needed by the company in order to optimize the resources used so that a production can produce products in the quantity and quality expected, so the company can achieve its objectives.

Keywords : Inventory, EPQ Method, Optimization

Abstrak. Pengendalian persediaan merupakan serangkaian kebijakan yang dibuat untuk menentukan tingkat persediaan. Pengendalian persediaan perlu diperhatikan karena berkaitan langsung dengan biaya yang harus ditanggung perusahaan. Oleh sebab itu, persediaan yang ada harus seimbang dengan kebutuhan, karena persediaan yang terlalu banyak akan mengakibatkan perusahaan menanggung risiko kerusakan dan biaya penyimpanan yang tinggi. Tetapi jika terjadi kekurangan persediaan akan berakibat terganggunya kelancaran dalam proses produksi. Metode EPQ adalah suatu model persediaan dimana barang di produksi sendiri oleh perusahaan. Metode EPQ dapat dicapai apabila biaya persiapan (set up cost) ditambah biaya penyimpanan (carrying cost) yang dikeluarkan jumlahnya minimum. Artinya, tingkat produksi optimal akan memberikan total biaya persediaan atau Total Inventory Cost (TC) minimum. Berdasarkan hasil pengamatan, data selama periode 2018, diperoleh jumlah produksi sebesar 15.664 unit/tahun dengan laju produksi sebesar 1585 unit/bulan dan jumlah permintaan sebesar 15.608 unit /tahun dengan laju permintaan sebesar 1101 unit/bulan. Selama melakukan proses produksi, perusahaan juga melayani permintaan konsumen. Berdasarkan hasil perhitungan, kuantitas produksi Teh Hitam Celup SC Goalpara – Dus 50g yang optimal dengan menggunakan metode EPQ adalah sebanyak 5.697 unit dengan interval waktu produksi yang optimal selama 4 bulan dan total biaya persediaan minimum sebesar Rp.3.933.346.395 per tahun. Optimasi produksi diperlukan perusahaan dalam rangka mengoptimalkan sumber daya yang digunakan agar suatu produksi dapat menghasilkan produk dalam kuantitas dan kualitas yang diharapkan, sehingga perusahaan dapat mencapai tujuannya.

Kata Kunci : Persediaan, Metode EPQ, Optimasi


Keywords


Persediaan, Metode EPQ, Optimasi

Full Text:

PDF

References


Agus Ristono, 2009.Manajemen Persediaan. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Fuad, M. dkk. 2000. Pengantar Bisnis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Prawirosentono, 2005, Riset Operasi Dan Ekonofisika. Penerbit PT Bumi Aksara: Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1984. Tentang Perindustrian. Jakarta DPR RI.

Yamit, Z. 1999. Manajemen Persediaan. Yogyakarta: Ekonisia Fakultas Ekonomi UII.

Yamit, Z. 2002. Manajemen Kualitas Produk dan Jasa. Edisi Pertama. Yogyakarta: Ekonisia Fakultas Ekonomi UII.




DOI: http://dx.doi.org/10.29313/.v0i0.20896

Flag Counter