Konstruksi Makna Piercing di Kalangan Remaja Kota Bandung

Fitrizal Rahmadhian, Satya Indra Karsa

Abstract


Body for some people into the right media for expression and experimentation. Not surprisingly, then raised decoration activities such as piercing. In the process, the part that was not enough pierced earlobe or nose. Starting from the tongue, lips, nipples until genital organ was fitted with accessories or pierced for earrings. From here then comes the term piercing. Indonesian society is familiar to name this term with piercings. While the artist was called piercer. Indeed, the way people express themselves is not the same. There are already comfortable with a style like most people. But there was a little more comfortable to be different from the average person. Therefore, piercing is an option for those who want to look different. Use of piercing must have a goal or a reason why they decided to use a piercing on her body. No behavior that just happens for no reason, there must be factors antecedents, causes, pusher, motivator, goal-goal, and or background. Starting from this, the researchers are interested in exploring more about the construction of meaning piercing among teenagers Bandung. By using the phenomenological approach of Alfred Schutz, author focuses of this research is based on how the meaning teenagers piercing users on piercing, motives teenagers using piercing users, and to know the experiences of teenagers using the piercing during piercing. The results showed (1) the meaning of piercing that is used to convey the message that “I am different”, there is no special meaning of piercing used. (2) the use of piercing motif is the act of imitation to represent the “style”. In terms of (3) experience, they are more confident when it has been using a piercing. They still use piercing although the social realities tend to judge negative. The conclusions obtained after completion of this research is that the phenomena that occur from the use of piercing among teenagers Bandung as meaning only social force, which is used to show others that they have something different. Piercing used can reveal “selfhood” them. Suggestions give is to think back carefully before deciding to do the piercing. Piercing also have a detrimental effect on health in terms of the use. Users piercing should be prepared with a negative assessment of the social environment around them to stay.

 

Tubuh bagi sebagian orang menjadi media tepat untuk berekspresi dan bereksperimen. Tak heran jika kemudian timbul aktivitas dekorasi seperti piercing. Dalam perkembangannya, bagian yang ditindik pun tak cukup daun telinga atau hidung. Mulai dari lidah, bibir, puting susu hingga organ genital pun ditindik untuk dipasangi accessories atau anting-anting. Dari sini kemudian muncul istilah piercing. Masyarakat indonesia akrab menamai istilah ini dengan tindik. Sedangkan para seniman tindik piercing itu disebut piercer. Memang cara orang untuk mengekspresikan diri tidak sama. Ada yang sudah nyaman dengan bergaya seperti orang kebanyakan. Tapi tak sedikit yang lebih nyaman dengan tampil beda dari orang kebanyakan. Oleh karena itu, tindik atau piercing merupakan pilihan bagi mereka yang ingin terlihat beda. Penggunaan piercing pasti memiliki tujuan atau alasan kenapa mereka memutuskan untuk menggunakan piercing di tubuhnya. Tidak ada tingkah laku yang terjadi begitu saja tanpa ada alasan, pasti ada faktor-faktor anteseden, sebab musabab, pendorong, motivator, sasaran-tujuan, dan atau latar belakangnya. Berawal dari hal tersebut, peneliti tertarik mengeksplorasi lebih jauh tentang konstruksi makna piercing di kalangan remaja Kota Bandung. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dari Alfred Schutz, penulis memfokuskan penelitian ini berdasarkan bagaimana makna para remaja pengguna piercing mengenai piercing, motif para remaja pengguna piercing menggunakan piercing, dan untuk mengetahui pengalaman para remaja pengguna piercing selama menggunakan piercing. Hasil penelitian menunjukkan (1) pemaknaan dari piercing yang digunakan untuk menyampaikan pesan bahwa “saya berbeda”, belum ada makna khusus dari piercing yang digunakan. (2) motif penggunaan piercing adalah tindakan imitasi untuk mewakili “gaya”. Dari segi (3) pengalaman, mereka lebih percaya diri ketika telah menggunakan piercing. Mereka tetap menggunakan piercing meskipun realitas sosial yang ada cenderung menilai negatif. Adapun kesimpulan yang didapat setelah menyelesaikan penelitian ini adalah bahwa fenomena yang terjadi dari penggunaan piercing di kalangan remaja Kota Bandung hanya sebagai pemaknaan gaya pergaulan, yang digunakan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka memiliki sesuatu yang berbeda. Piercing yang digunakan dapat mengungkapkan “kedirian” mereka. Saran yang dapat peneliti berikan adalah pikirkan kembali secara matang sebelum memutuskan untuk melakukan piercingPiercing juga memiliki dampak yang kurang baik terhadap segi kesehatan yang menggunakan. Pengguna piercing harus siap dengan penilaian negatif dari lingkungan sosial sekitar mereka tinggal.

 


Keywords


Phenomenology, Construction Meaning, Piercing, Teen

References


Kuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi: Fenomenologi, Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjajaran.




Flag Counter