Perancangan Beban Kerja pada Stasiun Kerja Pengelasan dengan Metode Workload Analysis

Adityana Ramdhan, Eri Achiraeniwati, Selamat Selamat

Abstract


Abstract. PT Heksa Prakarsa Teknik is a company engage in manufacturing. The research aim conducted at design the workload of all operators at the welding workstation. Company often experience delay in the process of send boat frames to consumer. One of the reasons the Stiffener section welding operators have a lot of work activities so that they relatively never stop. Therefore, to determine the level of operator workload, the workload analysis method is used, while to determine the percentage of productivity using the work sampling method. The results of research that have done for the two Stiffener operators have a workload value of more than 100% (overload), there are the Stiffener 1 operator and the Stiffener 2 operator at 114% and at 110%. Meanwhile, the other 3 welding operators received workload values of 40% - 60% (optimal load), namely Gritting 1, griting 2 and Body of of 84%, 87% and 92%. Welding operator workload repair solutions, there are divide the work activities of prepare workpieces for the Stiffener operator to each Gritting operator. The results of the workload balancing calculation show that all welding operators receive the optimal load.

Keywords: Workload, Welding workstation, Workload analysis

Abstrak. PT Heksa Prakarsa Teknik merupakan perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur. Penelitian dilakukan bertujuan untuk perancangan beban kerja seluruh operator pada stasiun kerja pengelasan. Perusahaan sering kali mengalami keterlambatan proses pengiriman rangka perahu ke tempat konsumen. Salah satu penyebab operator pengelasan bagian Stiffener memiliki aktivitas kerja yang banyak sehingga relatif tidak pernah berhenti pada saat bekerja. Maka dari itu untuk mengetahui tingkat beban kerja digunakan metode workload analysis, sementara untuk mengetahui persentase produktif menggunakan metode work sampling. Hasil penelitian yang telah dilakukan untuk kedua operator bagian Stiffener memiliki nilai beban kerja lebih dari 100% (overload) yaitu operator Stiffener 1 dan Stiffener 2 sebesar 114% dan 110%. Sementara untuk 3 operator pengelasan lainnya menerima nilai beban kerja 40% - 60% (optimal load) yaitu Gritting 1, Griting 2 dan Body sebesar 84%, 87% dan 92%. Solusi perbaikan beban kerja operator pengelasan, yaitu membagi aktivitas kerja menyiapkan benda kerja untuk operator Stiffener kepada masing-masing operator Gritting. Hasil perhitungan penyeimbangan beban kerja menunujukan bahwa seluruh operator pengelasan dalam menerima beban kerja menjadi optimal load.

Kata Kunci: Beban kerja, Stasiun kerja pengelasan, Worload analysis.


Keywords


Beban kerja, Stasiun kerja pengelasan, Worload analysis.

Full Text:

PDF

References


Achiraeniwati, E dan Rejeki, Y. S. (2010) ‘Perbaikan Fasilitas Kerja dengan Pendekatan Ergonomi (Studi Kasus Industri Rumah Tangga Sepatu Cibaduyut: CV GERUND)’. Prosiding SNaPP2010 Edisi Eksakta: Bandung.

Riduwan Arif (2012) ‘Analisa Beban Kerja Dan Jumlah Tenaga Kerja Yang Optimal Pada Bagian Produksi Dengan Pendekatan Metode Work Load Analysis (WLA) Di PT.Surabaya Perdana Rotopack’, Analisa Beban Kerja Dan Jumlah Tenaga Kerja.

Suci R. Mar'ih Koesomowidjojo. (2017) 'Panduan Praktis Menyusun Analisis Beban Kerja (1st ed)'. Jakarta: Penebar Surabaya.

Sutalaksana, I. (2006) Teknik Perancangan Sistem Kerja, Teknik Perancangan Sistem Kerja.

Tarwaka (2015) Ergonomi Industri, Dasar-dasar Pengetahuan dan Aplikasi di Tempat Kerja. Edisi Ke-2, Surakarta: Harapan Press.




DOI: http://dx.doi.org/10.29313/ti.v7i1.26198

Flag Counter    Â