Pengalaman Wanita yang Menikah pada Usia Dini

Syifa Nur Ma'isya, Riza Hernawati

Abstract


Abstract. Every human being must have the desire to get married. Married at a ripe age, physically, mentally and financially ready. However, not all couples can get married at a sufficient age. This research is motivated by the problem of the number of early marriages in big cities in Indonesia, one of which is the city of Bandung. Researchers are interested in taking this study to find out the motives for getting married at a very young age. The problem raised by the researcher is the experience of marrying women in adolescence with various impacts arising from the marriage that is undertaken. Therefore, the purpose of this study is to describe the phenomenon of early marriage in the city of Bandung. This study uses a qualitative research method with a phenomenological study approach which has a function to find out more deeply about the information based on the individual experiences of the informants about the experiences of women who marry at an early age. Data obtained from pre-research, in-depth interviews, observation. Data analysis was carried out in a qualitative manner with the phenomenological study method to 10 representative sources. The results of this study indicate that, the 10 informants have different motives for early marriage, the process of meaning that is felt by the 10 informants, the average answers presented are not difficult enough because they can interpret and understand the role of a separate mother because from the beginning it has been. ready for the consequences that will be in deciding to marry young. This includes having children at a young age, but there are several sources who explained that the difficulty in the process of interpreting or interpreting the role of mother is because it is not ready to become a mother. Furthermore, the adaptation process that was passed by 10 sources was not that difficult, because there were several supporting factors, they did not feel difficult because they were assisted by parents or family, apart from the adaptation process to become a mother, the interaction of mothers with spouses in early marriage partner, therefore the researcher asked about how the interaction with his partner - on average, the 10 informants answered that communication with their partners was good, smooth, and there was good communication openness.

Keywords: Motives, Youth, Early Marriage 

Abstrak. Setiap manusia pasti memiliki keinginan untuk menikah. Menikah di usia yang matang, siap secara fisik, mental dan finansial. Namun, tidak semua pasangan bisa menikah di usia yang cukup. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan banyaknya pernikahan dini di kota-kota besar di Indonesia salah satunya adalah kota Bandung. Peneliti tertarik mengambil penelitian ini untuk mengetahui motif menikah di usia yang sangat muda. Masalah yang diangkat oleh peneliti adalah pengalaman menikahi wanita pada usia remaja dengan berbagai dampak yang ditimbulkan dari pernikahan yang dijalani. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan fenomena pernikahan dini di kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologis yang berfungsi untuk mengetahui lebih dalam tentang informasi berdasarkan pengalaman individu informan tentang pengalaman wanita yang menikah di usia dini. Data diperoleh dari pra-penelitian, wawancara mendalam, observasi. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan metode studi fenomenologis terhadap 10 sumber yang representatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, 10 informan memiliki motif pernikahan dini yang berbeda, proses pemaknaan yang dirasakan oleh 10 informan, rata-rata jawaban yang disajikan tidak cukup sulit karena dapat memaknai dan memahami peran seorang ibu yang terpisah. karena dari dulu memang begitu. siap dengan konsekuensi yang akan terjadi dalam memutuskan untuk menikah muda. Termasuk memiliki anak di usia muda, namun ada beberapa sumber yang menjelaskan bahwa kesulitan dalam proses memaknai atau memaknai peran ibu adalah karena belum siap menjadi seorang ibu. Selanjutnya proses adaptasi yang dilalui oleh 10 narasumber tidak begitu sulit, karena ada beberapa faktor pendukung, mereka tidak merasa kesulitan karena dibantu oleh orang tua atau keluarga, selain dari proses adaptasi menjadi seorang ibu, interaksi anak-anak. ibu dengan pasangan pada pasangan pernikahan dini, oleh karena itu peneliti menanyakan bagaimana interaksi dengan pasangannya rata-rata 10 informan menjawab komunikasi dengan pasangannya baik, lancar, dan ada keterbukaan komunikasi yang baik.

Kata Kunci: Motif, Remaja, Pernikahan Dini



Keywords


Motif, Remaja, Pernikahan Dini

Full Text:

PDF

References


Sudaryat, Yayat. 2009. Makna dalam Wacana. Bandung: CV Yrama Widya

Thalib, Sayuti. 2014. Hukum Kekeluargaan Indonesia, Jakarta: UI-Press, Undang – Undang Pernikahan No.1 Tahun 1997.

Soekanto, Soerjono. 2002. Teori Peranan. Jakarta: Bumi Aksara.

Yugo Tri Rahayu Ningrum. 2018. Motivasi Menikah Pada usia Muda Pada Wanita Muda. Skripsi. Yogyakarta : Universitas Santa Dharma Yogyakarta.

Novilini, Olga Puspa, Hernawati, Riza. (2021). Opini Member Mengenai Personal Selling Sales Moka Pos dalam Memasarkan Produk. Jurnal Riset Public Relation, 1(1). 1-7




DOI: http://dx.doi.org/10.29313/.v0i0.30067

Flag Counter