Konstruksi Makna Keluarga dengan Anak Tunagrahita

Sindi Nursanti, Nova Yuliati

Abstract


Abstract:  In fostering a family, husband and wife usually expect the presence of a child who will bring changes in the family and increase the harmony of husband and wife. However, not all children born are lucky children, some children are born with imperfections, disabilities and limitations both psychologically and physically, and these children are classified as children with special needs. Therefore, the purpose of this study is. to describe the phenomenon of meaning construction that occurs in families with mentally retarded children. This study uses a qualitative research method with a phenomenological study approach which has a function to deepen information based on the individual experiences of the informants in communicating with children and the process of constructing the meaning of mentally retarded children. How to determine the subject by selecting parents who have children with mental retardation and SLBN A Citeureup Cimahi as the location for research. Data collection techniques in this study were in the form of observation, in-depth interviews with 5 informants, literature study and documentation. By using the source triangulation data analysis technique. The technique of taking the subject in this study using purposive sampling. The results of this study found that parents began to realize that their children had mental retardation at the age of the child after birth to 10 years, the presence of children has different meanings for parents such as, special children, the most beautiful gift from God, children change parents for the better. , and children are everything to a parent figure. There are obstacles in parents educating and interacting with mentally retarded children which causes difficulties in establishing communication and socializing the surrounding environment. Mentally retarded children tend to have different ways of communicating such as blank stares, coercion, difficulty focusing, random grammar, continuous repetition of words as well as children's articulations that tend to be difficult to understand.

Keywords: Awareness, Meaning, Interaction, Nonverbal Verbal Communication.

Abstrak: Dalam membina keluarga biasanya pasangan suami istri mengharapkan sosok akan hadirnya seorang anak yang kelak akan memberikan perubahan didalam keluarga dan menambah keharmonisan suami dan istri. Namun tidak semua anak yang lahir adalah anak-anak yang beruntung, beberapa anak terlahir dengan ketidaksempurnaan, ketidakmampuan dan keterbatasan baik psikis maupun fisik, dan anak-anak tersebut tergolong kedalam anak berkebutuhan khusus. Maka dari itu,tujuan dari penelitian ini yaitu. untuk menggambarkan fenomena konstruksi makna yang terjadi pada keluarga dengan anak tunagrahita. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi yang memiliki fungsi untuk memperdalam informasi yang didasari oleh pengalaman-pengalaman individu para informan dalam berkomunikasi dengan anak dan proses terkonstruknya makna anak tunagrahita. Cara menentukan subjek dengan memilih orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus tunagrahita dan SLBN A Citeureup Cimahi dijadikan lokasi untuk penelitian. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini berupa observasi, wawancara mendalam terhadap 5 informan, studi pustaka dan dokumentasi. Dengan menggunakan teknik analisis data triangulasi sumber. Teknik pengambilan subjek dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa orang tua mulai menyadari anaknya mengalami tunagrahita pada saat usia anak pasca lahir sampai 10 tahun, hadirnya anak memiliki makna yang berbeda-beda bagi orang tua seperti, anak spesial, hadiah terindah dari Tuhan, anak mengubah orang tua menjadi lebih baik, dan anak adalah segalanya untuk sosok orang tua. Ada hambatan dalam orang tua mendidik dan menjalin interaksi dengan anak tunagrahita yang menyebabkan sulitnya menjalin komunikasi dan sosialisasi lingkungan sekitar. Anak tunagrahita cenderung memiliki cara berkomunikasi yang berbeda seperti pandangan kosong, memaksa, sulit fokus, tata bahasa yang acak, pengulangan kata terus menerus juga artikulasi anak yang cenderung sulit dipahami.

Kata Kunci : Kesadaran, Makna, Interaksi, Komunikasi Verbal Nonverbal.


Keywords


Kesadaran, Makna, Interaksi, Komunikasi Verbal Nonverbal.

References


Bungin, H.M Burhan, 2008. Sosiologi Komunikasi (Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat). Jakarta: Prenada Media Group.

Dephie, Bandi. 2006. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung : PT Refika Aditama.

DeVito, Joseph A. 2013. The Interpersonal Communication Book 13th Edition. United States of America: Pearson Education, Inc.

E. Kokasih. 2012. Cara Bijak Memahami Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Yrama Widya.

Kuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi : Metode Penelitian Komunikasi. Widya Padjajaran.

Littlejohn, Stephen W & Karen A.Foss. 2009. Teori Komunikasi (Theories of Human Communication). Jakarta: Salemba Humanika.

Pratiwi, R.P., & Murtiningsih, Afin. 2013 . Kiat Sukses mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta : A-Ruzz Media.

Schutz, Alfred dalam John Wild dkk. 1967. The Phenomenology of the Social World. Illinois: Northon University Press.

Sri Lestari. 2012. Psikologi Keluarga. Jakarta. Kencana

Stewart L. Tubbs dan Sylvya Moss, 2005. Human Communication Konteks-Konteks Komunikasi , Bandung. Penerbit PT. Rosda Karya

Abdullah, Nandiyah. 2013. “Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus,” dalam Jurnal Magistra. Vol. XXV, No. 86. Tahun 2013.

Anggy Aprily Dwi Poetri, 2005. Jurnal: Makna Mengajar (Studi Fenomenologi Pada Pengajar Dalam Komunitas Save Street Child Surabaya), , Universitas Airlangga Surabaya.




DOI: http://dx.doi.org/10.29313/.v7i1.25250

Flag Counter