Identifikasi Golongan Senyawa Antibakteri Staphylococcus Epidermidis Penyebab Bau Badan dari Ekstrak Bertingkat Alga Hijau Biru (Spirulina Platensis) dengan Metode Klt Bioautografi

Widya Windani Septianti, Indra Topik Maulana, Livia Syafnir

Abstract


Abstract. Research on the identification of compound groups that have antibacterial activity body odor in blue-green algae (Spirulina platensis) using Bioautography TLC method has been done before. Body odor is a condition when sweat causes an unpleasant odor due to the decomposition of sweat compounds by Staphylococcus epidermidis bacteria into an odorous acid compound that is isovaleric acid. Extraction was carried out using a multilevel reflux method with n-hexane, ethyl acetate, and methanol. Each extract was tested for its antibacterial activity using pitting-diffusion method with concentrations of 0,2%; 0,4%; 0,6%; 0,8%; and 1%. The experimental results show that n-hexane extract had inhibitory zones at concentration of 0,6%; 0,8%; and 1%, which are 8.02 mm, 9.06 mm and 10.44 mm. However, ethyl acetate and methanol extracts do not form inhibitory zones. Furthermore, in the selected extract, n-hexane, TLC was monitored using the silica GF254 as a stationary phase with n-hexane and ethyl acetate (3:1) as a mobile phase. Antibacterial activity testing was performed using Bioautography TLC method. The experiments showed that the inhibition zone of n-hexane extract was shown at Rf 0.2 and Rf 1.2. Identification of spots using specific sprayers by Dragendroff, AlCl3, and FeCl3 reagents. The results showed that compounds in Rf 0.2 was a flavonoid and Rf 0.9 was an alkaloid.

Keywords: Spirulina platensis, Staphylococcus epidermidis, Bioautography TLC.

Abstrak. Penelitian mengenai identifikasi golongan senyawa yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri bau badan pada alga hijau biru (Spirulina platensis) dengan menggunakan metode KLT bioautografi telah dilakukan sebelumnya. Bau badan merupakan suatu kondisi saat keringat menimbulkan bau tidak sedap akibat adanya dekomposisi senyawa keringat oleh bakteri Staphylococcus epidermidis menjadi senyawa asam yang menimbulkan bau yaitu asam isovalerat. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode refluks secara bertingkat dengan pelarut n-heksan, etil asetat, dan methanol. Setiap ekstrak diuji aktivitas antibakterinya menggunakan metode agar sumuran dengan konsentrasi 0,2%; 0,4%; 0,6%; 0,8%; dan 1%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstrak n-heksan memiliki zona hambat pada konsentrasi 0,6%; 0,8%; dan 1%, yaitu sebesar 8,02 mm, 9,06 mm, dan 10,44 mm. Namun, pada ekstrak etil asetat dan metanol tidak membentuk zona hambat. Selanjutnya, pada ekstrak terpilih yaitu n-heksan dilakukan pemantauan KLT menggunakan fase diam silika GF254 dengan fase gerak n-heksan:etil asetat (3:1). Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode KLT Bioautografi. Hasil percobaan menunjukkan pada ekstrak n-heksan zona hambat ditunjukkan pada Rf 0,2 dan Rf 1,2. Identifikasi bercak menggunakan penyemprot spesifik oleh reagen Dragendroff, AlCl3, dan FeCl3. Hasil menunjukkan bahwa senyawa pada Rf 0,2 adalah flavonoid dan Rf 0,9 adalah alkaloid

Kata Kunci: Spirulina platensis, Staphylococcus epidermidis, KLT Bioautografi.


Keywords


Spirulina platensis, Staphylococcus epidermidis, Bioautography TLC

Full Text:

PDF

References


Astriani. (201). Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Turi (Sesbania grandiflora L) Secara KLT-Bioautografi [Skripsi]. Prodi Farmasi, Fakultas Ilmu kesehatan, Uin Alauddin, Makassar.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Farmakope Herbal Indonsesia. Jakarta: Depertemen Kesehatan RI.

Flick, E.W. 2001. Cosmetic and Toiletry Formulations. Second Edition Volume 8. New York: Noyes Publications.

Kabinawa I N. (2006). Spirulina Ganggang Penggempur Aneka penyakit. Edisi Pertama. Tanggerang: PT Agromedia Putaka.

Mao GY, Yang SL, Zheng JH. (2008). Etiology and Management of Axillary Bromidrosis: a brief review. Int J Dermatol

M. M. Azimantum Nur. (2014). Potensi Mikroalga sebagai Sumber Pangan Fungsional di Indonesia (overview). Yogyakarta: Prodi Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri UPN "Veteran".

Radji, Maksum. (2010). Buku Ajar Mikrobiologi Panduan Mahasiswa Farmasi dan Kedokteran. Jakara: Buku Kedokteran EGC.

Suratno. (2016). Skrining Fitokomia Ekstrak Etanol Mikroalga Spirulina platensis Yang berpotensi sebagai Antibakteri. Palangkaraya: Prodi D-3 Analis Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah.

Vonshak, A., S. Boussiba; A. Abeliovich & A. Richmond. (2004). Production of Sprirulina platensis biomass: Maintenance of monoalgal culture outdoors. Biotech. and Bioengineering.

Wagih, A., Mostafa, M., Shawky, Z., Maha, E., Hanaa, M. (2017). Antimicrobial Activity of Spirulina platensis Against Aquatic Bacterial Isolates. Saudi Arabia: Departments of Biology, Faculty of Biotechnologhy and Food Sciences Taif University.

Wardani, E., Wahyudi, P dan Tantari, D. (2011). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak etanol 70% dan n-heksan Jamur Shitake (Lentinula edodes (Berk.) Pegler) terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Faemasains. Jakarta: UHAMKA.




Flag Counter