Formulasi dan Evaluasi Sediaan Film Cepat Larut Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea indica L.) sebagai Penyegar Mulut

Ridha Fauziah, Ratih Aryani, G C Eka Darma

Abstract


Abstract. Bad breath is caused by odor-producing bacteria that grow in the mouth. One of the bacteria usually found in the mouth is Staphylococcus aureus and also fungal species such as Candida albicans. Beluntas leaves can be used to overcome the problem of bad breath in mouth because they contain flavonoids and tannins which can function as antibacterial and antifungal. In this study, mouth freshener preparations from beluntas leaf extract will be prepared in fast dissolving films. The results showed that beluntas leaf extract can be formulated in fast dissolving films which produced a good disintegration time of 30,41±0,78 seconds for F3C-1 (10% extract concentration) and 36,78±0,84 seconds for F3C-2 (20% extract concentration). This fast dissolving film preparation has antibacterial activity and antifungal activity against Staphylococcus aureus and Candida albicans. The inhibitory diameter produced in both formulas was 5,03±0,057 mm and 5,63 ± 0,666 mm, respectively, against Staphylococcus aureus and 5,06±0,115 mm and 6,27±0,305 mm against Candida albicans.

Keywords: beluntas leaves, fast dissolving film, Staphylococcus aureus, Candida albicans

 

Abstrak. Bau tidak sedap dimulut dapat disebabkan oleh bakteri yang terdapat didalam mulut. Bakteri yang biasanya terdapat dalam mulut salah satunya adalah Staphylococcus aureus dan spesies jamur seperti Candida albicans. Daun beluntas dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah bau tidak sedap dimulut karena mengandung flavonoid dan tanin yang dapat berfungsi sebagai antibakteri dan antijamur. Pada penelitian ini akan dibuat sediaan penyegar mulut dari esktrak daun beluntas yang dibuat dalam bentuk sediaan film cepat larut (fast dissolving film). Hasil menunjukkan bahwa ekstrak daun beluntas dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan film cepat larut dimana menghasilkan film cepat larut yang memiliki waktu hancur yang cukup baik yaitu 30,41±0,78 detik untuk F3C-1 (konsentrasi ekstrak 10%) dan 36,78±0,84 detik untuk F3C-2 (konsentrasi ekstrak 20%). Sediaan film cepat larut ini memiliki aktivitas antibakteri dan aktivitas antijamur terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan jamur Candida albicans. Diameter hambat yang dihasilkan pada kedua formula berturut-turut sebesar 5,03±0,057 mm dan 5,63±0,666 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan 5,06±0,115 mm dan 6,27±0,305 mm terhadap jamur Candida albicans.

Kata Kunci: daun beluntas, film cepat larut, Staphylococcus aureus, Candida albicans


Keywords


Daun Beluntas, Film Cepat Larut, Staphylococcus aureus, Candida albicans

Full Text:

PDF

References


Alfiah, Sari. (2016). Pengujian Aktivitas Antijamur Ekstrak Etanol Daun Beluntas Pluchea indica Less. Dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Candida albicans dan Malassezia furfur. Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin, Makasar.

Asija, R., M. Sharma., A. Gupta, dan S. Bhatt. (2013). Orodispersible Film: A Novel Approach for Patient Compliance. IJMPR 1(4): 386-392.

Dalimartha, S. (1999). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 1. PT Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1989). Materia Medika Indonesia. Jilid V. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Jakarta.

Ginting, D. (2014). Formulasi Patch Natrium Diklofenak Berbasis Polimer Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC) dan Natrium Karboksi Metil Selulosa (Nacmc) sebagai Antiinflamasi Lokal pada Penyakit Periodontal. [Skripsi]. Universitas UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta.

Handayani, O., E. Adiastuti P. dan D. Mintarsih. (2010). Daya Hambat Madu Indonesia Terhadap Pertumbuhan Candida albicans [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Airlangga. Surabaya.

Nemoto, O. Y., Haraga, H., Kimura, S., dan Nemoto, T.K. (2008). Occurance of Staphylococci In The Oral Cavities of Healthy Adults and Nasal-Oral trafficking of The Bacteria, Journal of Medical Microbiology, 87: 95-99.

Pahwa, Rakesh and Nisha Gupta. (2011). Superdisintegrant in the Development of Orally Disintegrating Tablets: A Review. IJPSR 2(11): 2767-2780.

Sakinah N, Dwyana Z, Tambaru E, Rante H. (2016). Uji Aktivitas Sediaan Obat Kumur Ekstrak Daun Miana Coleus scutellarioides (L.) Benth terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans. Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin, Makasar.

Sulistyaningsih. (2009). Potensi Daun Beluntas (Pluchea Indica Less.) sebagai Inhibitor terhadap Pseudomonas aeruginosa Multi Resistant dan Methicillin Resistant Stapylococcus aureus, Laporan Penelitian, Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran, Bandung.

Sultana, F., Arafat, M. dan Pathan, S.I. (2013). Preparation and Evaluation of Fast Dissolving Oral Thin Film of Caffeine. RAPS 3(1): 153-161.

Syaravina, C. B., R. Amalia. dan E. Hadianto. (2018). Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) 25% terhadap Biofilm Streptococcus Mutans – in vitro. ODONTO Dental Journal 5(1):28-33.

Thakur, N., Bansal, M., Sharma, N., Yadav, G. & Khare, P. (2013). Overview A Novel Approach of Fast Dissolving Films and Their Pateints, ABR 7(2):50-58.

Widagdo Y, Kristina Suntya. (2006). Volatile sulfur compounds sebagai penyebab halitosis. Fakultas Kedokteran Gigi Mahasaraswati Denpasar. Denpasar.




Flag Counter