Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Biji Melon (Cucumis sativus L.) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis Penyebab Jerawat

Dinda Salwa Adhisya, Anggi Arumsari, Nety Kurniaty

Abstract


Abstract: Long term use of antibiotic as antiacne has adverse effects such as irritation and resistence. Alternative treatment that are safe, effective, efficient, and affordable is therefore needed, which appear in the form of melon (Cucumis sativus L.) seed. The purpose of this research was to identify the secondary metabolites group of active compounds which is suspected to have antibacterial activity as well as to determine melon seed extract activities against Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis. Agar well diffusion method was used for antibacterial activity test. Results showed that antibacterial active compounds such as alkaloids, flavonoids, saponins, and anthraquinones were identified. Antibacterial test result indicated clear zones around the wells to a certain concentration. Parameters measured were minimum inhibitory concentration (MIC) and equivalent antibiotic comparison. Results also showed that melon seed ethanol extract exhibited antibacterial activities against Propionibacterium acnes with MIC value of 0.45% and inhibition diameter of 6.55 mm, while against Staphylococcus epidermidis with MIC value 0.425% and inhibition diameter of 6.6 mm. It is also indicated that the antibacterial activity of 1 mg melon seed extract is equivalent to 1.266x10-3 mg clindamycin against Propionibacterium acnes and 1.082x10-3 mg clindamycin against Staphylococcus epidermidis.

Keywords: Melon Seed (Cucumis Sativus L.), Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis.

Abstrak: Penggunaan antibiotik jangka panjang memiliki efek samping sebagai antijerawat antara lain iritasi dan menimbulkan resistensi, untuk mengatasinya diperlukan terapi alternatif yang aman, efektif dan efisien, serta terjangkau secara ekonomi oleh masyarakat, yaitu dengan memanfaatkan limbah biji melon (Cucumis sativus L.). Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi golongan senyawa metabolit sekunder yang diduga sebagai antibakteri, mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji melon terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar cara sumuran. Hasil uji identifikasi golongan senyawa menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji melon diduga memiliki golongan senyawa sebagai antibakteri yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, dan antrakuinon. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan zona bening di sekitar sumur hingga konsentrasi tertentu. Parameter yang diuji yaitu penetapan nilai KHM dan nilai kesetaraan ekstrak dengan antibiotik. Pada pengujian aktivitas antibakteri menunjukkan ekstrak biji melon memiliki kekuatan antibakteri tinggi. Nilai KHM pada bakteri Propionibacterium acnes berada pada konsentrasi 0,45% dengan diameter hambat 6,55 mm dan pada bakteri Staphylococcus epidermidis berada pada konsentrasi 0,425% diameter hambat 6,6 mm. Nilai kesetaraan ekstrak terhadap klindamisin pada bakteri Propionibacterium acnes 1 mg ekstrak etanol biji melon setara dengan 1,266x10-3 mg klindamisin, sedangkan pada bakteri Staphylococcus epidermidis 1 mg ekstrak etanol biji melon setara dengan 1,082x10-3 mg klindamisin.

Kata Kunci: Biji Melon (Cucumis sativus L.), Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis.


Keywords


Biji Melon (Cucumis sativus L.), Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis

Full Text:

PDF PDF

References


Athikomkulchai, S., Watthana chaiyingcharoen, R. 2008. The Development of Anti-Acne Products from Eucalyptus globulus and Psidium guajava Oil. Journal Health Res., 22(3): 109-113.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Edisi I. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Direktorat Pengawasan Obat Tradisional. Jakarta.

Guntarti, A. 2015. Penentuan parameter NON spesifik Jurnal farmasains Vo. 2(5).

Insani, C.S., Herawati, D., Kurniaty, N. (2016). Pengembangan Metode Analisis Kuantitatif Residu Antibiotik Tetrasiklin dalam Sarang Lebah Menggunakan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. [Skripsi]. Program Studi Farmasi. Universitas Islam Bandung, Bandung.

Rosihan, H.G., Aprilia, H., Arumsari, A. 2016. Analisis Fisikokimia dan Aktivitas Antibakteri Masker Kefir terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherischia coli Dibandingkan dengan Antibiotik Tetrasiklin dan Kloramfenikol. [Skripsi]. Program Studi Farmasi. Universitas Islam Bandung, Bandung.

Saising, J., Hiranrat, A., Mahabusarakan, W., Ongsakul, M.& Voravuthikunchai, S.P. 2008. Rhodomythone from Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk. As a Natural Antibiotic for Staphylococcus Cutaneosus Infection. Journal of Health Science, 54(5) 589-595.

Soedarya, A. 2010. Agribisnis Melon. Pustaka Grafika. Bandung.

Soemarno. 2000. Isolat dan Identifikasi Bacteri Klinik, AAK Yogyakarta, Depkes RI.

Tracy, J.W. dan Webster, Jr., L.T. 2008. Goodman and Gilman: Dasar Farmakologi Terapi, Vol. 2, Editor G. Joel dan Limbird, L.E, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Zaenglein Al, Graber EM, Thuboutot DM, Strauss JS. 2008. Acne vulgaris and acneiformeruption. Dermatology in general medicine. 7th ed, New York: McGraw-Hill, 690-703.




Flag Counter