Pengaruh Berbagai Jenis Peningkat Penetrasi Terhadap Difusi Perkutan Kafein dalam Sediaan Body Serum

Lia Octaviani Dewi, Sani Ega Priani, Fitrianti Darusman

Abstract


Abstract: Caffeine is a anticellulite compounds works by slowing down the lipogenesis process and accelerating the lipolysis process. To increase the topically penetration of caffeine, substances need to be added to enhancing the penetration effect. This study aims to determine the effect of adding various substances on penetration enhancing to percutaneous diffusion of caffeine in serum preparations, and knowing the physical properties and stability of the serum preparations. In this study a serum preparation containing 2% caffeine, which is differentiated based on the type of penetration enhancing agent used (propylene glycol, tween 80, ethanol 96%, PEG 400, and transcutol) all of them with concentration of 10%. The preparations were evaluated for diffusion using Franz diffusion cells and evaluated for their physical quality. According to the results obtain, the addition of penetration enhancing substances can increase percutaneous diffusion of caffeine in vitro, this is significantly different comparing with control (P <0.05). Serum preparations containing propylene glycol and tween 80 were able to improve the diffusion of caffeine better than serum containing other penetration enhancers. The serum preparations have good physical characteristics and stability in terms of organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, flow properties, and spreadibility.

Keywords: Caffeine, Anticellulite, Serum, Penetrant Enhancer.

Abstrak: Kafein adalah salah satu senyawa antiselulit yang bekerja dengan memperlambat proses lipogenesis dan mempercepat proses lipolisis. Untuk meningkatkan penetrasi kafein yang diberikan secara topikal, diperlukan penambahan zat peningkat penetrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan berbagai jenis zat peningkat penetrasi terhadap difusi perkutan kafein dalam bentuk sediaan serum, serta mengetahui sifat fisik dan stabilitas dari sediaan yang dihasilkan. Pada penelitian ini telah dibuat sediaan serum mengandung kafein 2%, dibuat beberapa formula serum yang dibedakan berdasarkan jenis zat peningkat penetrasi yang digunakan, yaitu propilenglikol, tween 80, etanol 96%, PEG 400, dan transcutol masing-masing dengan konsentrasi 10%. Sediaan yang dihasilkan diuji difusinya menggunakan sel difusi Franz dan dievaluasi mutu fisiknya. Hasil yang diperoleh yaitu penambahan zat peningkat penetrasi dapat meningkatkan difusi perkutan kafein secara in vitro yang berbeda signifikan dengan kontrol (P<0,05). Sediaan serum yang mengandung peningkat penetrasi propilenglikol dan tween 80 mampu meningkatkan difusi kafein paling baik dibandingkan dengan sediaan yang mengandung tiga peningkat penetrasi lainnya. Sediaan serum yang dihasilkan memiliki karakteristik dan stabilitas fisik yang baik dalam hal organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, sifat alir, dan daya sebar.

Kata Kunci: Kafein, Antiselulit, Serum, Peningkat Penetrasi.


Keywords


Kafein, Antiselulit, Serum, Peningkat Penetrasi.

Full Text:

PDF

References


Ameliana, L., Oktora, L dan Dwi, D.N. (2013). ‘Pengaruh Penambahan Asam Laktat Sebagai Enhancer Terhadap Penetrasi Perkutan Kafein Dalam Basis Gel’, Stomatognatic-Jurnal Kedokteran Gigi, Vol. 10, No. 2.

Bissoon, L. (2005). The Cellulite Cure. Meso Press, Albuquerque.

Damayanti, R.A dan Yuwono, T. (2013). ‘Dimetilsulfoksida Sebagai Enhancer Transpor Transdermal Teofilin Sediaan Gel’, Jurnal Ilmiah Kefarmasian, Vol. 3, No. 1.

Dewi, R., Anwar, E., S dan Yunita K. (2014). ‘Uji Stabilitas Fisik Formula Krim yang Mengandung Ekstrak Kacang Kedelai (Glycine max)’, Pharm Sci Res, Vol. 1, No. 3

Farmawati, N., Anwar, E dan Azizahwati. (2014). ‘Formulasi Serum Penghambat Kerja Tirosinase yang Mengandung Fitosom Ekstrak Biji Lengkeng (Dimocarpus longan Lour) Menggunakan Eksipien Koproses Kasein-Xanthan Gum’, Jurnal Fakultas Farmasi UI.

Handayani, R dan Kautsar, A.P. (2018). ‘Strategi Baru Sistem Penghantaran Obat Transdermal Menggunakan Peningkat Penetrasi Kimia’, Farmaka, Vol. 15, No. 3.

Hexsel, D dan Soirefmann, M. (2011). ‘Cosmetics for Cellulite’, Elsevier, Vol. 30.

Kouchak, M dan Handali, S. (2014). ‘Effect of Various Penetration Enhancers on Penetration of Aminophylline Through Shed Snake Skin’ , Jundishapur J Nat Pharm Prod, Vol. 9, No. 1.

Mardhiani, Y.D., Yulianti, H., Azhary, D.P dan Rusdiana, T. (2018). ‘Formulasi dan Stabilitas Sediaan Serum dari Ekstrak Kopi Hijau (Coffea canephora var. Robusta) Sebagai Antioksidan’, Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal, Vol. 2, No. 2.

Ningsi, S., Putrianti, N dan Wahyuni, D. (2015). ‘Formulasi, Karakterisasi dan Uji Penetrasi In Vitro Patch Ekstrak Biji Kopi Robusta (Coffea canephora) Sebagai Sediaan Anti Selulit’, Jurnal Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin, Vol. 2, No. 3.

Pearce, Evelyn C. (2011). Anatomi dan Fisiologi Untuk ParaMedis. Gramedia, Jakarta.

Rowe, R.C., Sheskey, P.J dan Quinn, M.E. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients. Pharmaceutical Press, London.

Shukry, M dan Ghada, F. (2013). ‘Evaluation of Topical Gel Bases Formulated With Various Essential Oils for Antibacterial Activity against Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus’, Topical Journal of Pharmaceutical Research, Vol. 12, No. 6.

Tunjungsari, D., Sulaiman, T.N.S dan Munawaroh, R. (2012). Formulasi Sediaan Gel Ekstrak Etanolik Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) dengan Basis Carbomer (naskah publikasi), Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta




Flag Counter