Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan dalam Pengobatan pada Pasien TB Paru di Puskesmas Bojongsoang Kabupaten Bandung Tahun 2017-2019

Tiyas Monikasari, Tony S Djajakusumah, Agus Muharam

Abstract


Abstract. Annual TB cases in West Java in 2017 were 82,063 cases and in 2016 were 72,558 cases, which showed a rising of 13.16%. In West Java, there are three regencies and one city with the highest incidence of TB cases, including Bandung Regency, Bogor Regency, and Bandung City, which is 9-12% of the number of new cases in West Java. This research aimed to determine pulmonary TB patients' compliance and the factors that affect compliance with pulmonary TB medication at Bojongsoang Health Center, Bandung Regency, from 2017 to 2019. This research used an analytic observational method with a cross-sectional design. This research was conducted from October to December 2020. The subject of this research was the pulmonary TB patients with the inclusion criteria and exclusion criteria. The data were collected from medical records in 2017 to 2019 with 160 subjects. The study of 160 pulmonary TB patients at the Bojongsoang Health Center showed that 55% of patients were adherent to treatment, and 45% were non-adherent to treatment. The factors that influence medication adherence for TB patients include age (p= 0.00) and attitude (p= 0.00). The older patient tends to be more positive in attitude towards pulmonary TB treatment. Pulmonary TB patients aged 40-60 years show a positive attitude towards pulmonary TB treatment, while younger patients show more negative attitudes and can have bad consequences to treatment results.

Keywords: Adherence, treatment, tuberculosis

Abstrak. Kasus TB di Jawa Barat setiap tahunnya meningkat, yaitu pada tahun 2017 terdapat 82.063 kasus dan tahun 2016 terdapat 72.558 kasus, sehingga terjadi peningkatan 13.16% pada tahun 2017 dibandingkan dengan 2016. Di Jawa Barat terdapat tiga kabupaten-kota yang wilayahnya memiliki insiden TB tertinggi, diantaranya Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor dan Kota Bandung dengan jumlah 9-12% dari jumlah kasus baru di Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepatuhan pasien TB paru dan faktor-faktor apa yang berpengaruh pada kepatuhan  pengobatan TB paru di Puskesmas Bojongsoang Kabupaten Bandung tahun 2017-2019. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober hingga Desember 2020. Subjek penelitian adalah pasien TB paru yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Data diperoleh dari rekam medis pada periode 2017-2019 dengan jumlah subjek 160 orang. Hasil penelitan dari 160 pasien TB Paru di Puskesmas Bojongsoang menunjukkan 55% pasien patuh dalam pengobatan dan 45% tidak patuh. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan pada pasien TB yaitu, usia (p=0.00) dan sikap (p=0.00). Semakin tua usia pasien, maka semakin positif sikapnya terhadap pengobatan TB Paru. Pada pasien TB Paru usia 40-60 tahun menunjukkan sikap yang positif terhadap pengobatan TB Paru, sedangkan pada usia muda lebih banyak menunjukkan sikap negatif dan dapat berakibat buruk terhadap hasil pengobatan.

Kata Kunci: Kepatuhan, pengobatan, tuberkulosis.


Keywords


Kepatuhan, pengobatan, tuberkulosis.

References


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman nasional pengendalian tuberkulosis. Kemenkes RI.2011.

Kementerian Kesehatan RI. INFODATIN pusat data dan informasi kementerian kesehatan RI tuberkulosis.2018. Tersedia dari :https://pusdatin.kemkes.go.id/article/view/18101500001/infodatin-tuberkulosis-2018.html

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Profil kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2017. Dinkes Provinsi Jabar. 2017. Tersedia dari: https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://diskes.jabarprov.go.id/dmdocuments/01b3018430a412a520e2b4a4b9d9864f.pdf

Budiman, Novie E, Dewi A. Analisis faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pasien TB paru pada fase intensif di Rumah Sakit Umum Cibabat Cimahi. 2013;53(9):1689–99.

Erawatyningsih E, Purwanta, Subekti H. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan berobat pada penderita tuberkulosis paru. 2009 Sep;25(3):117–24.

Ristyo Sari P, Imam A, Pepin N. Hubungan tingkat sosial ekonomi dengan angka kejadian TB paru BTA positif di wilayah kerja Puskesmas Peterongan Jombang. 2013 Juli;2(3):31–8.

Bagiada I, Putri Primasari N. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat ketidakpatuhan penderita tuberkulosis dalam berobat di Poliklinik Dots RSUP Sanglah Denpasar. J Intern Med. 2010;11(3).

Gebreweld FH, Kifle MM, Gebremicheal FE, Simel LL, Gezae MM, Ghebreyesus SS, et al. Factors influencing adherence to tuberculosis treatment in Asmara, Eritrea: A qualitative study. J Heal Popul Nutr. 2018;37(1):1–9.

Pameswari P, Halim A, Yustika L. Tingkat kepatuhan penggunaan obat pada pasien tuberkulosis di Rumah Sakit Mayjen H. A Thalib Kabupaten Kerinci. J Sains Farm Kln. 2016 Mei 1;2(2):116-21.

El PEN, Ian IT. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan berobat pasien tuberkulosis paru di Lima Puskesmas di Kota Manado. J Kedokteran Komunitas Dan Trop. 2014;2(1):1–8.

Sutarto, Yutricha S, Reni I. Hubungan antara efikasi diri terhadap kepatuhan minum obat anti tuberkulosis di Puskesmas rawat inap Panjang. 2019 Nov;10(3):405-12.

Fitrianda MI. Digital Repository Universitas Jember. 2013. Tersedia dari : http://repository.unej.ac.id/

Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Longo DL, Loscalzo. J.Harrison’s principles of internal medicine. Edisi ke-19. New York: McGraw-Hill Education; 2015:2:1911-32.

Kumar V, Abbas AK, Aster JC. Robbins basic pathology. Edisi ke-9. Philadelphia: Elsevier; 2015;95-96.

Kumar P, Clark M. Kumar & Clark's Clinical medicine. Edisi ke-9. Philadelphia: Elsevier; 2017.

Sudoyo AW, Setyohadi B, Alwi I. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid III Edisi ke-5. Jakarta: Interna Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam; 2009:2773-917.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman nasional pengendalian tuberkulosis. Kemenkes RI.2019. Tersedia dari : https://rsparudungus.jatimprov.go.id/wpcontent/uploads/2020/0/KMK-No.-HK.01.07-MENKES-755-2019-ttg-Pedoman-Nasional-Pelayanan-Kedokteran-Tata-Laksana-Tuberkolosis-1.pdf

Dahlan MS. Statistik untuk kedokteran dan kesehatan. Jakarta: Salemba Medika; 2014.

Barton B, Peat J. Medical Statistics A Guide to SPSS, Data analysis and critical appraisal. Edisi ke-2. New Jersey: Wiley Blackwell/BMJ Books; 2014.

World Health Organization. WHO global tuberculosis report 2020.

WHO. 2020. Tersedia dari : https://www.who.int/health-topics/tuberculosis#tab=tab

Centers for Disease Control and Prevention. CDC Introduction to the core curriculum on tuberculosis:What the clinician should know. Sixth edition. CDC.2013. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/tb/topic/treatment/default.html

Departemen Kesehatan RI. Panduan tatalaksana tuberkulosis. Jakarta.2010.

M. Fedak Kristen, Bernal A, Zachary A, Capshaw and Gross S. Applying the Bradford Hill criteria in the 21st century: how data integration has changed causal inference in molecular epidemiology. Emerg Themes Epidemiol.2015 Sep 30;12 (14):2-6.

Krasniqi S, Jakupi A, Daci A, Tigani B, Pira M, Zhjeqi V, Neziri B. Tuberculosis treatment adherence of patients in Kosovo. tuberculosis research and treatment.2017 Nov 5:2-7.

Garna Herry dan Fajar Awalia Y. Pedoman penyusunan karya ilmiah bidang kesehatan. Edisi ke-2. CV Adia; 2020.

Nurkomarasari N, Respati T, Budiman. Karakteristik penderita

drop out pengobatan tuberkulosis paru di Garut. GMHC. 2014 Feb; 2(1):22.




DOI: http://dx.doi.org/10.29313/kedokteran.v7i1.26694

Flag Counter