Scoping Review: Hubungan Kebisingan dengan Gangguan Pendengaran pada Pekerja Tekstil

Muhammad Ghazy Hafizh, Endang Suherlan, Panca Bagja

Abstract


Abstract. Industry in Indonesia is an essential component of the economy. In an industrial environment, the adverse health effects that may arise include the ears, which can cause hearing loss due to noise. Noise-induced hearing loss (NIHL) is hearing loss caused by prolonged exposure to noise. This research was carried out to determine the relationship between the length of work and hearing loss incidence due to noise in textile workers. The type of research used is a literature review or structured literature review using the Scoping Review method. The results showed that the textile industry factory has a noise intensity above TLV (> 85dB). The overall prevalence of NIHL is higher among textile industry workers. Prevalence is higher in men, older workers, and those with prolonged exposure. The main risk factors for NIHL are the duration and level of exposure to noise and hearing loss associated with more than ten years of work experience.

Keywords: Hearing loss due to noise, noise intensity, textile workers

Abstrak. Industri di Indonesia merupakan salah satu komponen perekonomian yang penting. Dalam lingkungan industri, dampak buruk kesehatan yang mungkin timbul salah satunya pada telinga yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran akibat bising. Gangguan pendengaran akibat bising atau noise induced hearing loss (NIHL) adalah gangguan pendengaran yang disebabkan oleh paparan kebisingan yang berkepanjangan. Dengan ini penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan lama kerja dengan kejadian gangguan pendengaran akibat bisisng pada pekerja textile. Jenis penelitian yang digunakan adalah literature review atau kajian pustaka terstruktur dengan menggunakan metode Scoping Review, yaitu sebuah sintesis dari studi literatur yang komprehensif dan sistematik dengan mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi tulisan ilmiah. Hasil penelitian didapatkan intensitas kebisingan yang terukur pada pabrik industry textile adalah diatas NAB (>85dB). Prevalensi NIHL secara keseluruhan lebih tinggi pada pekerja industri tekstil. Prevalensi lebih tinggi pada laki-laki, pekerja yang lebih tua, dan mereka yang mengalami paparan dalam waktu lama. Faktor resiko utama NIHL adalah durasi dan tingkat paparan kebisingan serta gangguan pendengaran dikaitkan dengan pengalaman kerja lebih dari 10 tahun.

Kata kunci: Gangguan pendengaran akibat bising, intensitas bising, pekerja textile



Keywords


Gangguan pendengaran akibat bising, intensitas bising, pekerja textile

References


Rizqi Septiana, N., Widowati Kesehatan dan Keselamatan Kerja, E., Ilmu Kesehatan Masyarakat, J. & Ilmu KeolahragaanUniversitas Negeri Semarang, F. 73 Higeia 1 (1) (2017) Gangguan Pendengaran Akibat Bising. 1, 73–82 (2017).

Soelistijo, S. A. et al. Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2015. Perkeni (2015). doi:10.1017/CBO9781107415324.004

Walls, C. Noise-Induced Hearing Loss of Occupational Origin. (2014).

Global-estimates-on-prevalence-of-hearing-loss-Jul2018 (3).

Kementrian Kesehatan Indonesia, 2018, Telinga Sehat Investasi Masa Depan, Jakarta : Kementrian Kesehatan RI

Thepaksorn, P., Koizumi, A., Harada, K. & Siriwong, W. Occupational Noise Exposure and Hearing Defects among Sawmill Workers in the South of Thailand. Int. J. Occup. Saf. Ergon. 0, 1–23 (2017).

Tenaga, M., Dan, K. & Republik, T. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. (2011).

Wall C, Avery J, Bellhouse G, Greville A, Rosse J, Black D. Noise Induced Hearing Loss of Occupational Origin. Occupational Safety and Health Service [buku di internet]. New Zealand: Departemen pekerja. 1994 Apr; [dikutip 30 Januari 2020]; 81: 5-22. Tersedia dari: http://www.premierstrategics.com/Industrialdeafness.pdf

Nelson DC. Robert Y. Barrientos MC, Fingerhut M. The global burden of occupational noise-induced hearing loss.




DOI: http://dx.doi.org/10.29313/kedokteran.v7i1.26616

Flag Counter