Arahan Pengembangan Sabuk Hijau (Green Belt) di Kawasan Industri Kariangau (KIK) Kota Balikpapan

Rakhman Fakhrian

Abstract


Perkembangan sektor industri perkotaan memberikan dampak positif terhadap ekonomi kota tetapi memiliki dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Polutan yang dihasilkan dari kegiatan industri menciptakan pencemaran air, udara dan tanah. Permasalahan pencemaran udara dapat diantisipasi dengan dibentuknya Sabuk Hijau. Sabuk hijau merupakan suatu bentuk RTH yang fungsi utamanya melindungi suatu kawasan terhadap kawasan lainnya. Sabuk Hijau yang terdiri dari vegetasi khusus terbukti secara ilmiah mampu menyerap polutan pencemar udara. Dengan menghitung prediksi polutan udara di masa yang akan datang dan dibandingkan dengan vegetasi penyerap polutan maka didapatkan jenis dan jumlah vegetasi yang dibutuhkan. Jenis vegetasi yang dipilih merupakan jenis yang saat ini telah tumbuh disekitar Kawasan Industri Kariangau serta memiliki kemampuan menyerap beberapa jenis polutan. Jenis yang dipilih ialah Pohon Akasia, Pohon Asam Kranji, dan Pohon Angsana. Berdasarkan hasil analisis kualitas udara dan analisis vegetasi, maka total pohon yang dibutuhkan sebanyak 3.864 pohon dan menghasilkan luas sabuk hijau 38,64 Ha.Diharapkan dengan luas tersebut mampu mengatasi pencemaran udara di masa yang akan datang.


Keywords


planologi, pencemaran udara, sabuk hijau

References


Anggraeni, Mustika. 2005. Green Belt dan Hubungannya dengan Kualitas Hidup Masyarakat di Perkotaan, Makalah Biologi Lingkungan, Program Studi Ilmu Lingkungan, Prog. Pascasarjana Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta.

Anggriani, Niniek. 2011. Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan. Klaten: Yayasan Humaniora.

Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah. 2011.Masterplan Kawasan Industri Kariangau (KIK). Balikpapan: Pemerintah Kota Balikpapan.

Basri, Setiawan. 2009. Jalur Hijau (Green Belt) Sebagai Kontrol Polusi Udara Hubungannya dengan Kualitas Hidup di Perkotaan. Sulawesi Tengah: Jurnal SmarTek Universitas Tadulako.

Basundoro, Purnawan. 2001. Industrialisasi, Perkembangan Kota, dan Respons Masyarakat: Studi Kasus Kota Gresik. Jurnal Humaniora, UGM, Yogyakarta.

Medawaty, Ida. 2009. Tanaman Yang Dapat Mereduksi Pencemaran Udara Di Kawasan Permukiman. Kab. Bandung: Pusat Litbang Permukiman.

Normaliani S, Suci. 2011. Penggunaan Tumbuhan Sebagai Pereduksi Pencemaran Udara, Makalah Lingkungan, Program Studi Teknik Lingkungan, ITS, Surabaya.

Samsoedin, I., Wibowo, A. 2012. Analisis Potensi Dan Kontribusi Pohon Di Perkotaan Dalam Menyerap Gas Rumah Kaca, Studi Kasus: Taman Kota Monumen Nasional Jakarta, Jurnal Lingkungan, Bogor: Pusat Penelitian Perubahan Iklim dan Kebijakan.




Flag Counter