Identifikasi “Ruang Gender” di Sentra Kain Cigondewah

Nadya Lingga Andieni, Ina Helena Agustina

Abstract


Abstact. In Indonesia, national development refers to Suistainable Development Goals (SDG'S) and one of them is gender. However, in realizing gender equality it is still lacking due to the lack of cooperation between the roles of the government, the private sector, and the community, and the impact on the development of spaces that are not friendly to men, women and children. One form of space that is less friendly, due to the transition of the function of housing into a trade area as in the Cigondewah City Strategic. Starting from a residential area turned into a Strategic Area in the economic field. With the involvement of men, women and children with different biological, cultural, and psychological aspects, there is a problem because, it touches on their privacy. So, please note the phenomenon of "gender space" based on various activities at the Cigondewah Fabric Center. This study uses a qualitative approach, and qualitative analysis according to Creswell. Result, government policies in determining strategic areas are not effective, based on physical, socio-cultural, and economic aspects. Physical aspect, lack of space and the availability of facilities make women experience stress. In terms of social culture 80% of female traders feel comfortable because they have a high sense of trust in workers, and 20% feel uncomfortable because they work not with their families. For male traders 90% feel comfortable because they can still run a hobby, and for children who live in the area feel uncomfortable because of the difficulty of playing outside the dwelling. In terms of economy, this strategic area contributes to the economic attractiveness of the city of Bandung, but it lacks in facilities and infrastructure.

Keywords: Gender, physical, social, economic

Abstrak. Di Indonesia dalam pembangunan Nasional mengacu pada Suistainable Development Goals (SDG’S) dan salah satunya aspek gender. Namun, mewujudkan kesetaraan gender masih kurang karena, kurangnya kerjasama antar peran pemeritah, swasta, dan masyarakat, dan berdampak pada pembangunan ruang yang kurang ramah terhadap laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Salah satu bentuk ruang yang kurang ramah tersebut, akibat peralihan fungsi perumahan menjadi kawasan perdagangan seperti pada Kawasan Strategis Kota (KSK) Cigondewah. Berawal dari kawasan perumahan berubah menjadi Kawasan Strategis bidang ekonomi. Dengan adanya keterlibatan laki-laki, perempuan dan anak-anak dengan segi biologis, budaya, dan psikologis berbeda, terjadi problematika karena,menyinggung ruang privasinya.  Maka, perlu diketahui fenomena “ruang gender” berdasarkan berbagai aktivitas di Sentra Kain Cigondewah. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif, dan analisis kualitatif menurut Creswell. Hasilnya, kebijakan pemerintah dalam menetapkan kawasan strategis tidak efektif, berdasarkan aspek fisik, sosial budaya, dan ekonomi. Segi fisik, kekurangan luasan ruang dan kelengakpan sarana membuat perempuan mengalami stres. Dalam segi sosial budaya 80% pedagang perempuan merasa nyaman karena memiliki memiliki rasa kepercayaan yang tinggi terhadap pekerja, dan 20%nya merasa tidak nyaman karena bekerja bukan dengan keluarganya. Bagi pedagang laki-laki 90% merasa nyaman karena tetap bisa menjalankan hobi, dan untuk anak-anak yang tinggal di kawasan itu merasa tidak nyaman karena sulitnya bermain di luar hunian. Dalam segi ekonomi, kawasan strategis ini memberikan kontribusi terdahap daya tarik ekonomi Kota Bandung, akan tetapi kurang dalam sarana dan infrastrukstur.

Kata Kunci: Gender, fisik, sosial, ekonomi


Keywords


Gender, fisik, sosial, ekonomi

Full Text:

PDF

References


Dokumen:

Peraturan Daerah No. 18 Tahun 2011. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung Tahun 2011-2031. Sekretariat Daerah Kota Bandung 22 Desember 2011. Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2011. Bandung.

Peraturan Mentri Pekerjaan Umum No. 41 Tahun 2007. Pedoman Kriteria Teknis Kawasan Budidaya. Peraturan Mentri Pekerjaan Umum 12 Desember 2007. Jakarta.

Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2015. Penyediaan Sarana Kerja Yang Responsif Gender Dan Peduli Anak Di Tempat Kerja. Menteri Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Jakarta 27 Mei 2015. Jakarta.

Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia No. 13 Tahun 2010. Petunjuk Teknis Kabupaten/Kota Layak Anak Di Desa/Kelurahan. Menteri Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Jakarta 18 Oktober 2010. Jakarta.

Rencana Detail Tata Ruang SWK Tegalega Kota Bandung Tahun 2011-2031

SNI 03-1733 Tahun 2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan

Buku:

Richmond, Virginia P. 1995. Nonverbal behaviour in interpersonal relations. 75 Arlington Street. Boston

Mankiw, N.G. 2008. Principles of Economics: An Asian Edition. Cengage Learning. Singapore.Terjemahan Barlev Nicodemus. 2014. Pengantar Ekonomi Mikro. Edisi Asia. Salemba Empat. Jakarta.

Jurnal:

Agustina, Ina Helena. 2009. Transportasi Untuk Kaum Perempuan Kelompok “Captive”. Jurnal PS PWK Unisba: 14.

Ammaria, Hanix. 2017. Komunikasi Dan Budaya. Jurnal PeurawI Media Kajian Komunikasi Islam 1 (1): 1-18.

Frankenhauser, M. 1983. Stress On and Off the Job as Related to Sex and Occupational Status in White-Collar Workers. ournal of Organizational Behavior. Vol. 10, No. 4 (Oct., 1989), pp. 321-346

Kristanto, Nurdien. 2008. Sistem Sosial-Budaya Di Indonesia. Jurnal Fakultas Sastra Universitas Diponegoro: 5-7.

Puspitawati, Herien. Konsep, Teori dan Anlisis Gender. Jurnal Departemen Ilmu Kelurga dan Konsumen : 1-13.




Flag Counter