Prinsip Kewartawanan Mochtar Lubis dalam Buku Mochtar Lubis Wartawan JIHAD

Muhammad Rifqi Akbar, Atie Rachmiatie

Abstract


Abstract. The biggest enemy of the press and its independence today is capitalists, who justify any means to gain power and preserve their wealth, including controlling the media and the press. Though the press should function as a means of educating the nation. It is time for journalists to now reflect on the journalistic elements and their application. Just as Indonesia is a country with a religious majority-Mochtar Lubis's principle needs to be reviewed also from the perspective of Islamic communication so that it continues to run according to Pancasila-is the philosophical basis of the Indonesian state and can be used as a reference for journalists and Muslims who strive in the press. The problem with this research is how Mochtar Lubis's journalism and also how Islam views these principles. This type of research is a qualitative research with a critical discourse analysis approach that belongs to Teun A. Van Dijk. This approach model aims to be able to identify the characteristics specifically, systematically, and objectively of a text or thought. The researcher uses Mochtar Lubis Journalist Jihad's book as the main reference to explore Mochtar Lubis's journalism principle. The results of this study are Mochtar Lubis upholding the principle of voicing the truth with language that is easily understood, always siding with the public or the public interest, following his conscience and also he always strives to always be open to information to the public. The four principles are in line with four of the six ethics of Islamic communication including qaulan sadidan, qaulan karima, qaulan ma’rufan, and qaulan maisura.

Keywords : Principles of Journalism, Mochtar Lubis, Journalist "Jihad", Islamic Communication.


Abstrak. Musuh terbesar bagi pers dan kemerdekaannya sekarang ini adalah kaum bermodal yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan dan melanggengkan kekayaannya, termasuk mengendalikan media dan pers. Padahal pers seharusnya berfungsi sebagai sarana mencerdaskan bangsa. Sudah saatnya wartawanan sekarang merenungkan kembali elemen jurnalistik dan penerapannya. Sebagaimana pula Indonesia adalah negara yang mayoritas warganya beragama, prinsip Mochtar Lubis perlu ditinjau juga dari sudut pandang komunikasi Islam agar tetap berjalan sesuai Pancasila dan dapat dijadikan salah satu referensi bagi para wartawan maupun umat Islam yang berjihad di jalan pers. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana kewartawanan Mochtar Lubis dan juga bagaimana Islam memandang prinsip tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis milik Teun A.Van Dijk. Model pendekatan ini bertujuan untuk dapat mengidentifikasikan karakteristik secara spesifik, sistematis, dan objektif dari suatu teks atau pemikiran. Peneliti menggunakan buku Mochtar Lubis Wartawan Jihad sebagai rujukan utama untuk menggali prinsip kewartawanan Mochtar Lubis. Hasil dari penelitian ini adalah Mochtar Lubis menjunjung prinsip menyuarakan kebenaran dengan bahasa yang mudah dimengerti, senantiasa berpihak kepada masyarakat atau kepentingan umum, mengikuti kata hati nuraninya dan juga ia selalu mengusahakan untuk selalu terbuka terhadap informasi kepada publik. Ke empat prinsip tersebut senada dengan empat dari enam etika komunikasi Islam diantaranya qaulan sadidan, qaulan karima, qaulan ma’rufan, dan qaulan maisura.

Kata kunci : Prinsip Kewartawanan, Mochtar Lubis, Wartawan Jihad, Komunikasi Islam.


Keywords


Prinsip Kewartawanan, Mochtar Lubis, Wartawan Jihad, Komunikasi Islam

Full Text:

PDF

References


Gaus, Ahmad A.F. 2010. Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.

Eriyanto. 2009. Analisis Wacana : Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta : PT LKiS Printing Cemerlang.

Hill, David T. 2011. Pers di Masa Orde Baru. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.




Flag Counter